Sebagai citra allah tiga sikap apa yang perlu dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat

By On Monday, September 19th, 2022 Categories : Tanya Jawab

Sebagai citra allah tiga sikap apa yang perlu dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat – Apa khabar Agan semua, Terima Kasih sudah berkunjung ke website situspanda ini. Saat ini, saya dari portal www.situspanda.Com ingin membagikan pertnyaan sekaligus jawabannya yg keren yang menjelaskan tentang Sebagai citra allah tiga sikap apa yang perlu dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat. Langsung saja bapak dan ibu boleh membaca yang di bawah ini:

Cari Jawaban Soal Kelas 4 Tema 6 Subtema 1: Sikap Apa yang Perlu Dikembangkan untuk Menghadapi Keragaman? (Pixabay)

Bobo.id – Pada materi belajar SD kelas 4, tema 6, subtema 1, adalah mengenai Aku dan Cita-citaku.

Dalam materi ini juga dibahas tentang berbagai keragaman yang ada di Indonesia, termasuk keragaman budaya, agama, hingga suku.

Karena ada berbagai keragaman di sekitar kita, maka sudah menjadi tugas kita untuk bisa menghadapi keragaman yang ada.

Sikap apa saja yang perlu dikembangkan untuk menghadapi keragaman yang ada di sekitar kita? Simak kunci jawabannya berikut ini!

Baca Juga: Mengenal 5 Tari Daerah Indonesia, Bentuk Melestarikan Warisan Budaya Indonesia

Indonesia Memiliki Berbagai Keragaman

Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan, yang artinya negara Indonesia tersusun dari pulau-pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Banyaknya pulau penyusun negara Indonesia ini menyebabkan terdapat berbagai keragaman di Indonesia, terutama keragaman suku dan budaya.

Hampir di setiap pulau memiliki suku asli dengan budaya yang beragam, mulai dari bahasa, pakaian adat, lagu adat, rumah adat, hingga upacara adat.

Selain dari kebudayaannya, keragaman di Indonesia juga dipengaruhi oleh agama yang dianut oleh penduduknya. Ada enam agaman resmi yang diakui di Indonesia, yaitu Hindu, Islam, Budha, Kristen, Katolik, dan Konghucu.


Page 2

Tyas Wening Selasa, 16 Februari 2021 | 14:57 WIB

Cari Jawaban Soal Kelas 4 Tema 6 Subtema 1: Sikap Apa yang Perlu Dikembangkan untuk Menghadapi Keragaman? (Pixabay)

Setiap Warga Negara Harus Mengembangkan Sikap untuk Menghadapi Keberagaman

Bagaimana menyikapi keberagaman yang ada di Indonesia?

Ada beberapa sikap yang bisa kita kembangkan untuk menghadapi keberagaman yang ada, yaitu:

1. Menghormati

Sikap menghormati harus dikembangkan untuk menghadapi keberagaman.

Orang-orang yang ada di sekitar kita mungkin saja berasal dari tempat yang berbeda, merupakan suku yang berbeda, dan memiliki adat istiadat yang berbeda.

Tentu saja hal ini harus dihadapi dengan sikap saling menghormati satu sama lain.

Misalnya ketika teman yang berasal dari tempat lain dan berbeda suku sedang melakukan upacara adat, maka kita harus menghormatinya dengan cara ikut menjaga suasana yang baik.

Baca Juga: Cari Jawaban Soal Kelas 5 Tema 6 Subtema 2: Berbagai Pola Lantai dalam Tarian

2. Toleransi

Toleransi juga merupakan sikap yang perlu dikembangkan untuk menghadapi keberagaman di sekitar kita.

Sikap toleransi ini mirip dengan sikap menghargai yang dilakukan untuk menghadapi keberagaman, teman-teman.

Contoh sikap toleransi yang bisa dikembangkan adalah dengan cara menjalin pertemanan dengan teman-teman yang berbeda suku maupun agama.


Page 3


Page 4

Pixabay

Cari Jawaban Soal Kelas 4 Tema 6 Subtema 1: Sikap Apa yang Perlu Dikembangkan untuk Menghadapi Keragaman?

Bobo.id – Pada materi belajar SD kelas 4, tema 6, subtema 1, adalah mengenai Aku dan Cita-citaku.

Dalam materi ini juga dibahas tentang berbagai keragaman yang ada di Indonesia, termasuk keragaman budaya, agama, hingga suku.

Karena ada berbagai keragaman di sekitar kita, maka sudah menjadi tugas kita untuk bisa menghadapi keragaman yang ada.

Sikap apa saja yang perlu dikembangkan untuk menghadapi keragaman yang ada di sekitar kita? Simak kunci jawabannya berikut ini!

Baca Juga: Mengenal 5 Tari Daerah Indonesia, Bentuk Melestarikan Warisan Budaya Indonesia

Indonesia Memiliki Berbagai Keragaman

Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan, yang artinya negara Indonesia tersusun dari pulau-pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Banyaknya pulau penyusun negara Indonesia ini menyebabkan terdapat berbagai keragaman di Indonesia, terutama keragaman suku dan budaya.

Hampir di setiap pulau memiliki suku asli dengan budaya yang beragam, mulai dari bahasa, pakaian adat, lagu adat, rumah adat, hingga upacara adat.

Selain dari kebudayaannya, keragaman di Indonesia juga dipengaruhi oleh agama yang dianut oleh penduduknya. Ada enam agaman resmi yang diakui di Indonesia, yaitu Hindu, Islam, Budha, Kristen, Katolik, dan Konghucu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Gadget. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. (Mat 9:36)

Berdasarkan penelitian yang sederhana, ditemukan paling sedikit atau setidak-tidaknya ada lima sikap utama yang harus kita kembangkan dalam kehidupan kita. Yang antara lain sikap-sikap tersebut adalah sebagai berikut: Penuh Perhatian, Menghargai Sesama, Menghormati Sesama, Memberi Pertolo-ngan, dan Mempunyai Pengertian. Kelima sikap ini harus kita kembangkan dengan seksama. Sebab kelima sikap ini akan membuat pemiliknya diterima di seluruh lapisan komunitas. Yesus adalah tokoh pemerhati sesama yang patut diteladani. Buktinya adalah bagaimana Dia tanpa dipinta, namun mempunyai inisiatip untuk menaruh perhatian yang sangat tinggi kepada keadaan atau kesusahan orang lain.

Menariknya kalimat yang mengekspresikan sikap Yesus yang penuh perhatian ini diterjemahkan dari bahasa Yunani: esplagxnizomai (baca: esplachnizomai). Yang artinya adalah menaruh rasa empati yang sangat tinggi sehingga batin dan hatinya tergerak dan terdorong untuk turut merasakan dan ambil bahagian dalam apa yang dirasakan oleh orang lain! Sikap demikian ini perlu dimiliki oleh setiap orang agar kita dapat saling merasakan dan saling memahami apa yang tengah dirasakan oleh sesama kita. Sehingga dengan memiliki karakter demikian ini paling tidak kita dapat menjadi seorang pribadi yang mempunyai keperdulian yang tinggi terhadap penderitaan dan kesulitan sesama. Dengan demikian kita tidak lagi menjadi seorang yang sibuk dengan diri sendiri dan pergumulannya. Akan tetapi juga mempunyai keprihatinan dan kepekaan terhadap kesusahan orang lain tanpa harus memandang atau memilah latar belakang suku, agama atau jenjang sosial mereka.

Kita saat ini hidup di tengah masyarakat yang haus dan lapar akan perhatian. Maka tidaklah menghe-rankan bilamana dunia kita diwarnai dengan berbagai perilaku yang menyimpang! Meski tidak dapat dijadi-kan sebagai barometer utama, namun penyimpangan perilaku yang menggejala di masyarakat kita saat ini jelas membuktikan adanya fenomena dehidrasi perhatian! Kehadiran kita dalam memberikan perhatian kepada masyarakat di sekeliling kita, akan sangat menolong mengobati dunia kita yang tengah sakit ini. Dengan meluangkan sebagian waktu, uang, atau apapun yang dapat kita bagikan kepada sesama. Hal itu akan sangat membantu saudara-saudara kita yang tengah membutuhkan perhatian!

“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka …”Sikap perta-ma yang harus kita kembangkan adalah menjadi seorang pribadi yang penuh perhatian. Tepat seperti yang dilakukan olehYesus dengan senantiasa jeli memperhatikan dan memperdulikan keadaan orang lain. Yesus selalu mempunyai waktu, kesempatan dan kemauan untuk memperhatikan dan memperdulikan kesusahan dan kebutuhan orang lain. Bagi Yesus menaruh perhatian dan keperdulian kepada semua orang bukanlah sebuah kewajiban, akan tetapi Dia melakukannya oleh karena didorong oleh rasa kasih yang sangat dalam kepada umat manusia! Dia sangat tertarik untuk mengetahui apa yang menjadi kesusahan orang lain dan memberi mereka pertolongan!

Itu sebabnya mengapa Yesus selalu sibuk mencermati dan mengamati kebutuhan setiap orang! Yesus hampir-hampir tidak punya cukup kesempatan untuk memperhatikan diri-Nya sendiri. Lebih tepat lagi bilamana dikatakan, bahwa Dia tidak pernah memperhatikan diri-Nya sendiri! Tindakan Tuhan Yesus ini terbukti ketika Dia dengan rela meninggalkan Surga, tempat di mana Dia dipuji, disembah dan diagungkan. Yesus memilih turun ke dalam dunia ini dan menjadi seorang hamba yang membaktikan hidup-Nya demi kebahagiaan dan keselamatan orang lain. Yesus selalu berkeliling dan mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya, hanya untuk memberi pertolongan kepada setiap orang yang membutuhkan! Tatkala bertemu dengan seorang penderita lepra atau kusta yang memohon agar disembuhkan-Nya. Yesus pun dengan tidak ragu-ragu menjamahorang malang yang dianggap najis itu (Mat 8:1-4). Bukan hanya orang itu yang menikmati kebaikan hati dan perhatian Yesus. Masih banyak lagi peristiwa menarik yang membuktikan keperdulian Yesus terhadap orang yang bernasib malang.

Tidak hanya berhenti sampai di situ, perhatian dan pengorbanan Yesus dibuktikan melalui sebuah karya agung dan mulia. Yesus rela diolok, dicemooh, dihina, ditolak, dan dianiaya bahkan disalibkan hanya untuk menyelamatkan orang berdosa! Sebab tanpa kematian-Nya alam maut tidak akan pernah terkalahkan. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, alam maut dapat dikalahkan dan surga kini bukan lagi impian kosong! Oleh karenanya milikilah waktu dan kemauan untuk memperhatikan dan memperdulikan kebutuhan orang lain

Empati yang tinggi

Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” (Yoh 5:6). Berjalan di tepi kolam Bethesda bagi Yesus bukanlah sebuah tindakan yang dilakukan tidak sengaja atau secara kebetulan! Mata hati Yesus menunjukkan kepada-Nya, bahwa di sana ada seorang pria malang yang sudah tiga puluh delapan tahuh terkapar tanpa daya (Yoh 5:5). Orang malang yang lumpuh itu mungkin sudah ditinggalkanoleh kaum kerabat atau sanak keluarganya. Entah karena mereka telah bosan dan jenuh mendampingi si lumpuh malang dan dianggap sudah tidak produktip lagi. Atau mungkin disebabkan oleh karena kehidupan harus terus berjalan, sementara itu bilamana mereka tetap mendampinginya mereka juga mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi. Tiga puluh delapan tahun mendampingi tanpa kepastian jelas membosan-kan dan menghabiskan waktu.

Tatkala langkah-Nya tiba di tepi kolam Bethesda, Yesus dituntun oleh rasa empaty (turut merasakan apa yang dirasakan orang lain) yang tinggi. Dia mengetahui sudah berapa lama pria malang itu terkapar di sana. Yesus tidak menanyakan apa penyebab dia terkapar tanpa daya, sebab pertanyaan itu kurang bermanfaat. Sebagai gantinya Yesus menawarkan kesembuhan kepadanya seraya memerintahkannya untuk bangun“Maukah engkau sembuh?” (Yoh 5:6). Rasa empati telah memulihkan si lumpuh yang malang. Perkataan Yesus yang penuh kuasa telah menghidupkan kembali sendi dan otot serta urat syaraf yagn telah mati selama tiga puluh delapan tahun. “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan (Joh 5:9). Marilah kita menjadi orang yang mempunyai rasaempati yang tinggi. Supaya hidup kita yang singkat ini dapet menghadirkan manfaat baik bagi diri kita sendiri, namun juga bagi sesama! Setiap orang yang mempunyai empati yang tinggi akan diberkati TUHAN, sehingga dia akan dipercaya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib seperti yang dilakukan oleh Yesus (Yoh 14:12).

Tidak merasa direpotkan oleh kesusahan orang lain

Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya. (Mat 8:3).Tatkala didatangi oleh seorang penderita kusta yang sekujur tubuhnya berbau busuk, sementara orang-orangyang mengikuti-Nya pun tunggang langgang menjauh karena takut tertular dan takut menjadi najis (Im 13:44). Yesus menunjukkan rasa empati yang luar biasa! Dia tidak menjauh atau menghindar, namun justru menghampirinya serta memberinya ruang untuk mencurahkan hati dan perasaannya. Dengan leluasa si kusta malang menceritakan kesedihan hatinya dan memohon pertolongan-Nya.

Sementara orang-orang lain berdiri dari kejauhan sambil menyaksikan perjumpaan antara Yesus dan si kusta malang. Dengan penuh kasih Yesus mendengarkan penuturan si kusta yang malang. Setelah didengar oleh Yesus seluruh keluh kesah dan permohonannya. Tanpa rasa risih atau jijik, Yesus pun mengulurkan tangan-Nya dan menyentuhnya. Sambil menatap penuh kasih dan penuh perhatian, Yesus berkata:“Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya (Mat 8:3). Perhatian dan rasa empati Yesus terhadap si kusta malang bukan hanya sekedar menjadikan tubuhnya sembuh, akan tetapi juga menyembuhkan luka hatinya yang selama ini dia derita akibat rasa tertolak yang dialaminya selama dia menderita kusta.

Menyentuh dan menjamah orang yang dianggap najis oleh orang lain bagi Yesus bukanlah sesuatu yang menakutkan atau menjijikkan! Sebaliknya, Dia justru membuka diri untuk menaruh perhatian dan mengulurkan tangan-Nya guna menolong siapapun yang membutuhkan. Yesus tidak pernah merasa direpotkan oleh kesusahan orang lain. Kebanggaan-Nya adalah memperhatikan dan memberi pertolongan kepada siapapun yang membutuhkan!Marilah kita mengembangkan sikap yang penuh perhatian dan keperdulian kepada sesama tanpa harus memandang siapa mereka.


Page 2

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. (Mat 9:36)

Berdasarkan penelitian yang sederhana, ditemukan paling sedikit atau setidak-tidaknya ada lima sikap utama yang harus kita kembangkan dalam kehidupan kita. Yang antara lain sikap-sikap tersebut adalah sebagai berikut: Penuh Perhatian, Menghargai Sesama, Menghormati Sesama, Memberi Pertolo-ngan, dan Mempunyai Pengertian. Kelima sikap ini harus kita kembangkan dengan seksama. Sebab kelima sikap ini akan membuat pemiliknya diterima di seluruh lapisan komunitas. Yesus adalah tokoh pemerhati sesama yang patut diteladani. Buktinya adalah bagaimana Dia tanpa dipinta, namun mempunyai inisiatip untuk menaruh perhatian yang sangat tinggi kepada keadaan atau kesusahan orang lain.

Menariknya kalimat yang mengekspresikan sikap Yesus yang penuh perhatian ini diterjemahkan dari bahasa Yunani: esplagxnizomai (baca: esplachnizomai). Yang artinya adalah menaruh rasa empati yang sangat tinggi sehingga batin dan hatinya tergerak dan terdorong untuk turut merasakan dan ambil bahagian dalam apa yang dirasakan oleh orang lain! Sikap demikian ini perlu dimiliki oleh setiap orang agar kita dapat saling merasakan dan saling memahami apa yang tengah dirasakan oleh sesama kita. Sehingga dengan memiliki karakter demikian ini paling tidak kita dapat menjadi seorang pribadi yang mempunyai keperdulian yang tinggi terhadap penderitaan dan kesulitan sesama. Dengan demikian kita tidak lagi menjadi seorang yang sibuk dengan diri sendiri dan pergumulannya. Akan tetapi juga mempunyai keprihatinan dan kepekaan terhadap kesusahan orang lain tanpa harus memandang atau memilah latar belakang suku, agama atau jenjang sosial mereka.

Kita saat ini hidup di tengah masyarakat yang haus dan lapar akan perhatian. Maka tidaklah menghe-rankan bilamana dunia kita diwarnai dengan berbagai perilaku yang menyimpang! Meski tidak dapat dijadi-kan sebagai barometer utama, namun penyimpangan perilaku yang menggejala di masyarakat kita saat ini jelas membuktikan adanya fenomena dehidrasi perhatian! Kehadiran kita dalam memberikan perhatian kepada masyarakat di sekeliling kita, akan sangat menolong mengobati dunia kita yang tengah sakit ini. Dengan meluangkan sebagian waktu, uang, atau apapun yang dapat kita bagikan kepada sesama. Hal itu akan sangat membantu saudara-saudara kita yang tengah membutuhkan perhatian!

“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka …”Sikap perta-ma yang harus kita kembangkan adalah menjadi seorang pribadi yang penuh perhatian. Tepat seperti yang dilakukan olehYesus dengan senantiasa jeli memperhatikan dan memperdulikan keadaan orang lain. Yesus selalu mempunyai waktu, kesempatan dan kemauan untuk memperhatikan dan memperdulikan kesusahan dan kebutuhan orang lain. Bagi Yesus menaruh perhatian dan keperdulian kepada semua orang bukanlah sebuah kewajiban, akan tetapi Dia melakukannya oleh karena didorong oleh rasa kasih yang sangat dalam kepada umat manusia! Dia sangat tertarik untuk mengetahui apa yang menjadi kesusahan orang lain dan memberi mereka pertolongan!

Itu sebabnya mengapa Yesus selalu sibuk mencermati dan mengamati kebutuhan setiap orang! Yesus hampir-hampir tidak punya cukup kesempatan untuk memperhatikan diri-Nya sendiri. Lebih tepat lagi bilamana dikatakan, bahwa Dia tidak pernah memperhatikan diri-Nya sendiri! Tindakan Tuhan Yesus ini terbukti ketika Dia dengan rela meninggalkan Surga, tempat di mana Dia dipuji, disembah dan diagungkan. Yesus memilih turun ke dalam dunia ini dan menjadi seorang hamba yang membaktikan hidup-Nya demi kebahagiaan dan keselamatan orang lain. Yesus selalu berkeliling dan mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya, hanya untuk memberi pertolongan kepada setiap orang yang membutuhkan! Tatkala bertemu dengan seorang penderita lepra atau kusta yang memohon agar disembuhkan-Nya. Yesus pun dengan tidak ragu-ragu menjamahorang malang yang dianggap najis itu (Mat 8:1-4). Bukan hanya orang itu yang menikmati kebaikan hati dan perhatian Yesus. Masih banyak lagi peristiwa menarik yang membuktikan keperdulian Yesus terhadap orang yang bernasib malang.

Tidak hanya berhenti sampai di situ, perhatian dan pengorbanan Yesus dibuktikan melalui sebuah karya agung dan mulia. Yesus rela diolok, dicemooh, dihina, ditolak, dan dianiaya bahkan disalibkan hanya untuk menyelamatkan orang berdosa! Sebab tanpa kematian-Nya alam maut tidak akan pernah terkalahkan. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, alam maut dapat dikalahkan dan surga kini bukan lagi impian kosong! Oleh karenanya milikilah waktu dan kemauan untuk memperhatikan dan memperdulikan kebutuhan orang lain

Empati yang tinggi

Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” (Yoh 5:6). Berjalan di tepi kolam Bethesda bagi Yesus bukanlah sebuah tindakan yang dilakukan tidak sengaja atau secara kebetulan! Mata hati Yesus menunjukkan kepada-Nya, bahwa di sana ada seorang pria malang yang sudah tiga puluh delapan tahuh terkapar tanpa daya (Yoh 5:5). Orang malang yang lumpuh itu mungkin sudah ditinggalkanoleh kaum kerabat atau sanak keluarganya. Entah karena mereka telah bosan dan jenuh mendampingi si lumpuh malang dan dianggap sudah tidak produktip lagi. Atau mungkin disebabkan oleh karena kehidupan harus terus berjalan, sementara itu bilamana mereka tetap mendampinginya mereka juga mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi. Tiga puluh delapan tahun mendampingi tanpa kepastian jelas membosan-kan dan menghabiskan waktu.

Tatkala langkah-Nya tiba di tepi kolam Bethesda, Yesus dituntun oleh rasa empaty (turut merasakan apa yang dirasakan orang lain) yang tinggi. Dia mengetahui sudah berapa lama pria malang itu terkapar di sana. Yesus tidak menanyakan apa penyebab dia terkapar tanpa daya, sebab pertanyaan itu kurang bermanfaat. Sebagai gantinya Yesus menawarkan kesembuhan kepadanya seraya memerintahkannya untuk bangun“Maukah engkau sembuh?” (Yoh 5:6). Rasa empati telah memulihkan si lumpuh yang malang. Perkataan Yesus yang penuh kuasa telah menghidupkan kembali sendi dan otot serta urat syaraf yagn telah mati selama tiga puluh delapan tahun. “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan (Joh 5:9). Marilah kita menjadi orang yang mempunyai rasaempati yang tinggi. Supaya hidup kita yang singkat ini dapet menghadirkan manfaat baik bagi diri kita sendiri, namun juga bagi sesama! Setiap orang yang mempunyai empati yang tinggi akan diberkati TUHAN, sehingga dia akan dipercaya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib seperti yang dilakukan oleh Yesus (Yoh 14:12).

Tidak merasa direpotkan oleh kesusahan orang lain

Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya. (Mat 8:3).Tatkala didatangi oleh seorang penderita kusta yang sekujur tubuhnya berbau busuk, sementara orang-orangyang mengikuti-Nya pun tunggang langgang menjauh karena takut tertular dan takut menjadi najis (Im 13:44). Yesus menunjukkan rasa empati yang luar biasa! Dia tidak menjauh atau menghindar, namun justru menghampirinya serta memberinya ruang untuk mencurahkan hati dan perasaannya. Dengan leluasa si kusta malang menceritakan kesedihan hatinya dan memohon pertolongan-Nya.

Sementara orang-orang lain berdiri dari kejauhan sambil menyaksikan perjumpaan antara Yesus dan si kusta malang. Dengan penuh kasih Yesus mendengarkan penuturan si kusta yang malang. Setelah didengar oleh Yesus seluruh keluh kesah dan permohonannya. Tanpa rasa risih atau jijik, Yesus pun mengulurkan tangan-Nya dan menyentuhnya. Sambil menatap penuh kasih dan penuh perhatian, Yesus berkata:“Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya (Mat 8:3). Perhatian dan rasa empati Yesus terhadap si kusta malang bukan hanya sekedar menjadikan tubuhnya sembuh, akan tetapi juga menyembuhkan luka hatinya yang selama ini dia derita akibat rasa tertolak yang dialaminya selama dia menderita kusta.

Menyentuh dan menjamah orang yang dianggap najis oleh orang lain bagi Yesus bukanlah sesuatu yang menakutkan atau menjijikkan! Sebaliknya, Dia justru membuka diri untuk menaruh perhatian dan mengulurkan tangan-Nya guna menolong siapapun yang membutuhkan. Yesus tidak pernah merasa direpotkan oleh kesusahan orang lain. Kebanggaan-Nya adalah memperhatikan dan memberi pertolongan kepada siapapun yang membutuhkan!Marilah kita mengembangkan sikap yang penuh perhatian dan keperdulian kepada sesama tanpa harus memandang siapa mereka.

Lihat Pendidikan Selengkapnya


Page 3

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. (Mat 9:36)

Berdasarkan penelitian yang sederhana, ditemukan paling sedikit atau setidak-tidaknya ada lima sikap utama yang harus kita kembangkan dalam kehidupan kita. Yang antara lain sikap-sikap tersebut adalah sebagai berikut: Penuh Perhatian, Menghargai Sesama, Menghormati Sesama, Memberi Pertolo-ngan, dan Mempunyai Pengertian. Kelima sikap ini harus kita kembangkan dengan seksama. Sebab kelima sikap ini akan membuat pemiliknya diterima di seluruh lapisan komunitas. Yesus adalah tokoh pemerhati sesama yang patut diteladani. Buktinya adalah bagaimana Dia tanpa dipinta, namun mempunyai inisiatip untuk menaruh perhatian yang sangat tinggi kepada keadaan atau kesusahan orang lain.

Menariknya kalimat yang mengekspresikan sikap Yesus yang penuh perhatian ini diterjemahkan dari bahasa Yunani: esplagxnizomai (baca: esplachnizomai). Yang artinya adalah menaruh rasa empati yang sangat tinggi sehingga batin dan hatinya tergerak dan terdorong untuk turut merasakan dan ambil bahagian dalam apa yang dirasakan oleh orang lain! Sikap demikian ini perlu dimiliki oleh setiap orang agar kita dapat saling merasakan dan saling memahami apa yang tengah dirasakan oleh sesama kita. Sehingga dengan memiliki karakter demikian ini paling tidak kita dapat menjadi seorang pribadi yang mempunyai keperdulian yang tinggi terhadap penderitaan dan kesulitan sesama. Dengan demikian kita tidak lagi menjadi seorang yang sibuk dengan diri sendiri dan pergumulannya. Akan tetapi juga mempunyai keprihatinan dan kepekaan terhadap kesusahan orang lain tanpa harus memandang atau memilah latar belakang suku, agama atau jenjang sosial mereka.

Kita saat ini hidup di tengah masyarakat yang haus dan lapar akan perhatian. Maka tidaklah menghe-rankan bilamana dunia kita diwarnai dengan berbagai perilaku yang menyimpang! Meski tidak dapat dijadi-kan sebagai barometer utama, namun penyimpangan perilaku yang menggejala di masyarakat kita saat ini jelas membuktikan adanya fenomena dehidrasi perhatian! Kehadiran kita dalam memberikan perhatian kepada masyarakat di sekeliling kita, akan sangat menolong mengobati dunia kita yang tengah sakit ini. Dengan meluangkan sebagian waktu, uang, atau apapun yang dapat kita bagikan kepada sesama. Hal itu akan sangat membantu saudara-saudara kita yang tengah membutuhkan perhatian!

“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka …”Sikap perta-ma yang harus kita kembangkan adalah menjadi seorang pribadi yang penuh perhatian. Tepat seperti yang dilakukan olehYesus dengan senantiasa jeli memperhatikan dan memperdulikan keadaan orang lain. Yesus selalu mempunyai waktu, kesempatan dan kemauan untuk memperhatikan dan memperdulikan kesusahan dan kebutuhan orang lain. Bagi Yesus menaruh perhatian dan keperdulian kepada semua orang bukanlah sebuah kewajiban, akan tetapi Dia melakukannya oleh karena didorong oleh rasa kasih yang sangat dalam kepada umat manusia! Dia sangat tertarik untuk mengetahui apa yang menjadi kesusahan orang lain dan memberi mereka pertolongan!

Itu sebabnya mengapa Yesus selalu sibuk mencermati dan mengamati kebutuhan setiap orang! Yesus hampir-hampir tidak punya cukup kesempatan untuk memperhatikan diri-Nya sendiri. Lebih tepat lagi bilamana dikatakan, bahwa Dia tidak pernah memperhatikan diri-Nya sendiri! Tindakan Tuhan Yesus ini terbukti ketika Dia dengan rela meninggalkan Surga, tempat di mana Dia dipuji, disembah dan diagungkan. Yesus memilih turun ke dalam dunia ini dan menjadi seorang hamba yang membaktikan hidup-Nya demi kebahagiaan dan keselamatan orang lain. Yesus selalu berkeliling dan mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya, hanya untuk memberi pertolongan kepada setiap orang yang membutuhkan! Tatkala bertemu dengan seorang penderita lepra atau kusta yang memohon agar disembuhkan-Nya. Yesus pun dengan tidak ragu-ragu menjamahorang malang yang dianggap najis itu (Mat 8:1-4). Bukan hanya orang itu yang menikmati kebaikan hati dan perhatian Yesus. Masih banyak lagi peristiwa menarik yang membuktikan keperdulian Yesus terhadap orang yang bernasib malang.

Tidak hanya berhenti sampai di situ, perhatian dan pengorbanan Yesus dibuktikan melalui sebuah karya agung dan mulia. Yesus rela diolok, dicemooh, dihina, ditolak, dan dianiaya bahkan disalibkan hanya untuk menyelamatkan orang berdosa! Sebab tanpa kematian-Nya alam maut tidak akan pernah terkalahkan. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, alam maut dapat dikalahkan dan surga kini bukan lagi impian kosong! Oleh karenanya milikilah waktu dan kemauan untuk memperhatikan dan memperdulikan kebutuhan orang lain

Empati yang tinggi

Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” (Yoh 5:6). Berjalan di tepi kolam Bethesda bagi Yesus bukanlah sebuah tindakan yang dilakukan tidak sengaja atau secara kebetulan! Mata hati Yesus menunjukkan kepada-Nya, bahwa di sana ada seorang pria malang yang sudah tiga puluh delapan tahuh terkapar tanpa daya (Yoh 5:5). Orang malang yang lumpuh itu mungkin sudah ditinggalkanoleh kaum kerabat atau sanak keluarganya. Entah karena mereka telah bosan dan jenuh mendampingi si lumpuh malang dan dianggap sudah tidak produktip lagi. Atau mungkin disebabkan oleh karena kehidupan harus terus berjalan, sementara itu bilamana mereka tetap mendampinginya mereka juga mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi. Tiga puluh delapan tahun mendampingi tanpa kepastian jelas membosan-kan dan menghabiskan waktu.

Tatkala langkah-Nya tiba di tepi kolam Bethesda, Yesus dituntun oleh rasa empaty (turut merasakan apa yang dirasakan orang lain) yang tinggi. Dia mengetahui sudah berapa lama pria malang itu terkapar di sana. Yesus tidak menanyakan apa penyebab dia terkapar tanpa daya, sebab pertanyaan itu kurang bermanfaat. Sebagai gantinya Yesus menawarkan kesembuhan kepadanya seraya memerintahkannya untuk bangun“Maukah engkau sembuh?” (Yoh 5:6). Rasa empati telah memulihkan si lumpuh yang malang. Perkataan Yesus yang penuh kuasa telah menghidupkan kembali sendi dan otot serta urat syaraf yagn telah mati selama tiga puluh delapan tahun. “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan (Joh 5:9). Marilah kita menjadi orang yang mempunyai rasaempati yang tinggi. Supaya hidup kita yang singkat ini dapet menghadirkan manfaat baik bagi diri kita sendiri, namun juga bagi sesama! Setiap orang yang mempunyai empati yang tinggi akan diberkati TUHAN, sehingga dia akan dipercaya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib seperti yang dilakukan oleh Yesus (Yoh 14:12).

Tidak merasa direpotkan oleh kesusahan orang lain

Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya. (Mat 8:3).Tatkala didatangi oleh seorang penderita kusta yang sekujur tubuhnya berbau busuk, sementara orang-orangyang mengikuti-Nya pun tunggang langgang menjauh karena takut tertular dan takut menjadi najis (Im 13:44). Yesus menunjukkan rasa empati yang luar biasa! Dia tidak menjauh atau menghindar, namun justru menghampirinya serta memberinya ruang untuk mencurahkan hati dan perasaannya. Dengan leluasa si kusta malang menceritakan kesedihan hatinya dan memohon pertolongan-Nya.

Sementara orang-orang lain berdiri dari kejauhan sambil menyaksikan perjumpaan antara Yesus dan si kusta malang. Dengan penuh kasih Yesus mendengarkan penuturan si kusta yang malang. Setelah didengar oleh Yesus seluruh keluh kesah dan permohonannya. Tanpa rasa risih atau jijik, Yesus pun mengulurkan tangan-Nya dan menyentuhnya. Sambil menatap penuh kasih dan penuh perhatian, Yesus berkata:“Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya (Mat 8:3). Perhatian dan rasa empati Yesus terhadap si kusta malang bukan hanya sekedar menjadikan tubuhnya sembuh, akan tetapi juga menyembuhkan luka hatinya yang selama ini dia derita akibat rasa tertolak yang dialaminya selama dia menderita kusta.

Menyentuh dan menjamah orang yang dianggap najis oleh orang lain bagi Yesus bukanlah sesuatu yang menakutkan atau menjijikkan! Sebaliknya, Dia justru membuka diri untuk menaruh perhatian dan mengulurkan tangan-Nya guna menolong siapapun yang membutuhkan. Yesus tidak pernah merasa direpotkan oleh kesusahan orang lain. Kebanggaan-Nya adalah memperhatikan dan memberi pertolongan kepada siapapun yang membutuhkan!Marilah kita mengembangkan sikap yang penuh perhatian dan keperdulian kepada sesama tanpa harus memandang siapa mereka.

Lihat Pendidikan Selengkapnya


Page 4

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. (Mat 9:36)

Berdasarkan penelitian yang sederhana, ditemukan paling sedikit atau setidak-tidaknya ada lima sikap utama yang harus kita kembangkan dalam kehidupan kita. Yang antara lain sikap-sikap tersebut adalah sebagai berikut: Penuh Perhatian, Menghargai Sesama, Menghormati Sesama, Memberi Pertolo-ngan, dan Mempunyai Pengertian. Kelima sikap ini harus kita kembangkan dengan seksama. Sebab kelima sikap ini akan membuat pemiliknya diterima di seluruh lapisan komunitas. Yesus adalah tokoh pemerhati sesama yang patut diteladani. Buktinya adalah bagaimana Dia tanpa dipinta, namun mempunyai inisiatip untuk menaruh perhatian yang sangat tinggi kepada keadaan atau kesusahan orang lain.

Menariknya kalimat yang mengekspresikan sikap Yesus yang penuh perhatian ini diterjemahkan dari bahasa Yunani: esplagxnizomai (baca: esplachnizomai). Yang artinya adalah menaruh rasa empati yang sangat tinggi sehingga batin dan hatinya tergerak dan terdorong untuk turut merasakan dan ambil bahagian dalam apa yang dirasakan oleh orang lain! Sikap demikian ini perlu dimiliki oleh setiap orang agar kita dapat saling merasakan dan saling memahami apa yang tengah dirasakan oleh sesama kita. Sehingga dengan memiliki karakter demikian ini paling tidak kita dapat menjadi seorang pribadi yang mempunyai keperdulian yang tinggi terhadap penderitaan dan kesulitan sesama. Dengan demikian kita tidak lagi menjadi seorang yang sibuk dengan diri sendiri dan pergumulannya. Akan tetapi juga mempunyai keprihatinan dan kepekaan terhadap kesusahan orang lain tanpa harus memandang atau memilah latar belakang suku, agama atau jenjang sosial mereka.

Kita saat ini hidup di tengah masyarakat yang haus dan lapar akan perhatian. Maka tidaklah menghe-rankan bilamana dunia kita diwarnai dengan berbagai perilaku yang menyimpang! Meski tidak dapat dijadi-kan sebagai barometer utama, namun penyimpangan perilaku yang menggejala di masyarakat kita saat ini jelas membuktikan adanya fenomena dehidrasi perhatian! Kehadiran kita dalam memberikan perhatian kepada masyarakat di sekeliling kita, akan sangat menolong mengobati dunia kita yang tengah sakit ini. Dengan meluangkan sebagian waktu, uang, atau apapun yang dapat kita bagikan kepada sesama. Hal itu akan sangat membantu saudara-saudara kita yang tengah membutuhkan perhatian!

“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka …”Sikap perta-ma yang harus kita kembangkan adalah menjadi seorang pribadi yang penuh perhatian. Tepat seperti yang dilakukan olehYesus dengan senantiasa jeli memperhatikan dan memperdulikan keadaan orang lain. Yesus selalu mempunyai waktu, kesempatan dan kemauan untuk memperhatikan dan memperdulikan kesusahan dan kebutuhan orang lain. Bagi Yesus menaruh perhatian dan keperdulian kepada semua orang bukanlah sebuah kewajiban, akan tetapi Dia melakukannya oleh karena didorong oleh rasa kasih yang sangat dalam kepada umat manusia! Dia sangat tertarik untuk mengetahui apa yang menjadi kesusahan orang lain dan memberi mereka pertolongan!

Itu sebabnya mengapa Yesus selalu sibuk mencermati dan mengamati kebutuhan setiap orang! Yesus hampir-hampir tidak punya cukup kesempatan untuk memperhatikan diri-Nya sendiri. Lebih tepat lagi bilamana dikatakan, bahwa Dia tidak pernah memperhatikan diri-Nya sendiri! Tindakan Tuhan Yesus ini terbukti ketika Dia dengan rela meninggalkan Surga, tempat di mana Dia dipuji, disembah dan diagungkan. Yesus memilih turun ke dalam dunia ini dan menjadi seorang hamba yang membaktikan hidup-Nya demi kebahagiaan dan keselamatan orang lain. Yesus selalu berkeliling dan mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya, hanya untuk memberi pertolongan kepada setiap orang yang membutuhkan! Tatkala bertemu dengan seorang penderita lepra atau kusta yang memohon agar disembuhkan-Nya. Yesus pun dengan tidak ragu-ragu menjamahorang malang yang dianggap najis itu (Mat 8:1-4). Bukan hanya orang itu yang menikmati kebaikan hati dan perhatian Yesus. Masih banyak lagi peristiwa menarik yang membuktikan keperdulian Yesus terhadap orang yang bernasib malang.

Tidak hanya berhenti sampai di situ, perhatian dan pengorbanan Yesus dibuktikan melalui sebuah karya agung dan mulia. Yesus rela diolok, dicemooh, dihina, ditolak, dan dianiaya bahkan disalibkan hanya untuk menyelamatkan orang berdosa! Sebab tanpa kematian-Nya alam maut tidak akan pernah terkalahkan. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, alam maut dapat dikalahkan dan surga kini bukan lagi impian kosong! Oleh karenanya milikilah waktu dan kemauan untuk memperhatikan dan memperdulikan kebutuhan orang lain

Empati yang tinggi

Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” (Yoh 5:6). Berjalan di tepi kolam Bethesda bagi Yesus bukanlah sebuah tindakan yang dilakukan tidak sengaja atau secara kebetulan! Mata hati Yesus menunjukkan kepada-Nya, bahwa di sana ada seorang pria malang yang sudah tiga puluh delapan tahuh terkapar tanpa daya (Yoh 5:5). Orang malang yang lumpuh itu mungkin sudah ditinggalkanoleh kaum kerabat atau sanak keluarganya. Entah karena mereka telah bosan dan jenuh mendampingi si lumpuh malang dan dianggap sudah tidak produktip lagi. Atau mungkin disebabkan oleh karena kehidupan harus terus berjalan, sementara itu bilamana mereka tetap mendampinginya mereka juga mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi. Tiga puluh delapan tahun mendampingi tanpa kepastian jelas membosan-kan dan menghabiskan waktu.

Tatkala langkah-Nya tiba di tepi kolam Bethesda, Yesus dituntun oleh rasa empaty (turut merasakan apa yang dirasakan orang lain) yang tinggi. Dia mengetahui sudah berapa lama pria malang itu terkapar di sana. Yesus tidak menanyakan apa penyebab dia terkapar tanpa daya, sebab pertanyaan itu kurang bermanfaat. Sebagai gantinya Yesus menawarkan kesembuhan kepadanya seraya memerintahkannya untuk bangun“Maukah engkau sembuh?” (Yoh 5:6). Rasa empati telah memulihkan si lumpuh yang malang. Perkataan Yesus yang penuh kuasa telah menghidupkan kembali sendi dan otot serta urat syaraf yagn telah mati selama tiga puluh delapan tahun. “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan (Joh 5:9). Marilah kita menjadi orang yang mempunyai rasaempati yang tinggi. Supaya hidup kita yang singkat ini dapet menghadirkan manfaat baik bagi diri kita sendiri, namun juga bagi sesama! Setiap orang yang mempunyai empati yang tinggi akan diberkati TUHAN, sehingga dia akan dipercaya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib seperti yang dilakukan oleh Yesus (Yoh 14:12).

Tidak merasa direpotkan oleh kesusahan orang lain

Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya. (Mat 8:3).Tatkala didatangi oleh seorang penderita kusta yang sekujur tubuhnya berbau busuk, sementara orang-orangyang mengikuti-Nya pun tunggang langgang menjauh karena takut tertular dan takut menjadi najis (Im 13:44). Yesus menunjukkan rasa empati yang luar biasa! Dia tidak menjauh atau menghindar, namun justru menghampirinya serta memberinya ruang untuk mencurahkan hati dan perasaannya. Dengan leluasa si kusta malang menceritakan kesedihan hatinya dan memohon pertolongan-Nya.

Sementara orang-orang lain berdiri dari kejauhan sambil menyaksikan perjumpaan antara Yesus dan si kusta malang. Dengan penuh kasih Yesus mendengarkan penuturan si kusta yang malang. Setelah didengar oleh Yesus seluruh keluh kesah dan permohonannya. Tanpa rasa risih atau jijik, Yesus pun mengulurkan tangan-Nya dan menyentuhnya. Sambil menatap penuh kasih dan penuh perhatian, Yesus berkata:“Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya (Mat 8:3). Perhatian dan rasa empati Yesus terhadap si kusta malang bukan hanya sekedar menjadikan tubuhnya sembuh, akan tetapi juga menyembuhkan luka hatinya yang selama ini dia derita akibat rasa tertolak yang dialaminya selama dia menderita kusta.

Menyentuh dan menjamah orang yang dianggap najis oleh orang lain bagi Yesus bukanlah sesuatu yang menakutkan atau menjijikkan! Sebaliknya, Dia justru membuka diri untuk menaruh perhatian dan mengulurkan tangan-Nya guna menolong siapapun yang membutuhkan. Yesus tidak pernah merasa direpotkan oleh kesusahan orang lain. Kebanggaan-Nya adalah memperhatikan dan memberi pertolongan kepada siapapun yang membutuhkan!Marilah kita mengembangkan sikap yang penuh perhatian dan keperdulian kepada sesama tanpa harus memandang siapa mereka.

Lihat Pendidikan Selengkapnya

Saya harap semoga jawaban mengenai Sebagai citra allah tiga sikap apa yang perlu dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat di atas ada gunanya untuk anda semua.

Nah kalau teman butuh bantuan lebih lanjut,bapak dan ibu boleh hubungi kita lewat formulir contact us.

Sebagai citra allah tiga sikap apa yang perlu dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat | admin | 4.5