Prasasti yang menunjukkan pernah terjadinya peperangan antara kerajaan Sriwijaya

By On Sunday, September 25th, 2022 Categories : Tanya Jawab

Prasasti yang menunjukkan pernah terjadinya peperangan antara kerajaan Sriwijaya – Hallo tante dan om semua, Terima Kasih sudah berkunjung ke web situspanda dotcom ini. Di hari yang cerah ini, kami di web situspanda dotcom ingin menampilkan info yg menarik yang akan menunjukkan tentang Prasasti yang menunjukkan pernah terjadinya peperangan antara kerajaan Sriwijaya. Sebaiknya om dan tante boleh cek yang setelah ini:

Rajendra Chola di medan perang, dalam panil relief Candi Kolaramma, India

SERANGAN Kerajaan Cola, sebuah dinasti Tamil di India Selatan, konon turut mengantar Kerajaan Sriwijaya ke akhir masa keemasannya. Padahal, sebelumnya Sriwijaya dan India Selatan berhubungan baik sejak abad ke-9 M. Prasasti Nalanda (860 M) menyebut Raja Sriwijaya, Balaputradewa, pernah mendirikan vihara di Nalanda.

Hal itu ditiru penerusnya. Pada 1005 M, Raja Cudamaniwarman mendirikan kuil di Nagipattana (Nagapattinam, Pantai Koromandel). Pembangunan candi ini tak selesai kemudian dilanjutkan putranya, Marawijayatunggawarman. Saat itu, Kerajaan Cola sudah berdiri dan dipimpin oleh Rajaraja (985-1014).

Namun, ketika Rajendracola I naik takhta pada 1012 menggantikan ayahnya, Rajaraja, sikapnya terhadap Sriwijaya berubah. Dia menyerang Sriwijaya pada 1025 M dan 1068/1069 M. Penyebabnya tak begitu jelas.

Advertising

Advertising

Namun, menurut Bambang Budi Utomo, arkeolog senior di Puslit Arkenas, alasannya mungkin karena faktor ekonomi. Kala itu, pedagang Tamil telah menguasai sekitar Teluk Benggala. Mereka menyebar hingga ke Myanmar, Thailand, hingga ujung utara barat laut Sumatra, yaitu Barus, Banda Aceh, dan Medan. Para pedagang itu kemudian membentuk persatuan pedagang bernama “Yang Ke Lima Ratus dari Seribu Arah” (Ayyavole-500).

“Ini disebutkan dalam sebuah prasasti Tamil yang ditemukan di Lobu Tua, Barus. Prasasti ini memperkuat dugaan adanya komunitas Tamil di Sumatra,” kata Bambang ketika ditemui di kantornya.

Prasasti itu menyebut para pedagang Tamil harus membayar pajak kepada raja Cola, bukan kepada Sriwijaya sebagai penguasa setempat.

“Untuk apa? Melindungi kepentingan orang Tamil. Istilahnya kalau sekarang ‘jatah preman’; si preman melindungi pedagang dari gusuran,” ujar Bambang.

Sebagai balasannya, Bambang menduga, ketika pedagang Tamil merasa dirugikan Sriwijaya, mereka mengadu kepada Cola. Sudah menjadi tugas Cola untuk melindungi para pedagang itu.

“Ini interpretasi saya. Mungkin pajak (ke Sriwijaya, red.) terlalu berat, diseranglah Sriwijaya,” katanya. 

Menurut Claude Guillot dkk. dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu, penguasa Cola pada masa itu menjalin hubungan erat dengan perkumpulan pedangang, khususnya dengan Ayyavole-500 yang ada di Lobu Tua.

Menurutnya, ini terkait dengan misi politik kerajaan. Pemerintahan Rajendra adalah puncak ketika Kerajaan Cola ingin memperluas kekuasaannya. Cola berkeinginan menjalin hubungan dengan wilayah timur, seperti Tiongkok dan Kamboja. Meski sebenarnya orang India sudah ada di Barus sejak pertengahan abad ke-9 M. Dinasti Cola waktu itu belum menonjol dan hanya menguasai satu daerah kecil di delta Sungai Kaveri.

“Dengan perluasan wilayah kekuasaan Dinasti Cola memungkinkan para pedagang Tamil, yang merupakan anggota perkumpulan yang didukung pemerintah, berhasil menguasai jaringan perdagangan yang lama, seperti jaringan perdagangan kamper yang menuju Barus,” catat Guillot.

Bambang tak setuju. Menurutnya, kerajaan-kerajaan yang pernah ada di India hanya berkuasa di Asia Selatan. Pengaruhnya saja yang sampai ke banyak wilayah, seperti gaya seni dan aliran filsafat.

Sementara orang Tamil tak begitu membawa pengaruh di wilayah Sriwijaya, terutama dalam hal seni, misalnya arca. Pedagang Tamil yang datang ke wilayah Sriwijaya membawa arcanya dari India.

Misalnya, arca bergaya Tamil yang ditemukan di Kota Cina, Medan. Batu yang dijadikan bahan membuat arca tak ditemukan di Sumatra atau Nusantara, tapi hanya ada di India.

“Artinya apa? Itu barang dibuat di India oleh komunitas Tamil, dibawa ke Kota Cina untuk diletakkan di vihara yang dibangun oleh Komunitas Tamil untuk pemujaannya,” terang Bambang.

Hasilnya, gaya seni Tamil tak berkembang di Indonesia. Tak ada seniman Nusantara yang mengadopsi gaya itu.

“Serangannya bisa jadi karena Sriwijaya yang salah memberikan pajak terlalu tinggi. Tapi ini belum terbukti,” lanjut Bambang.

Yang jelas, Bambang menambahkan, serangan itu bukan bermotif untuk menguasai wilayah Sriwijaya. Tak ada sumber tertulis soal itu, baik prasasti maupun naskah Nusantara dan India.

Alih-alih menduduki, Cola hanya datang mengubrak-abrik Sriwijaya, menawan rajanya pada serangan kedua, dan kembali ke negaranya. “Cola itu hanya mengingatkan: nggak usah macam-macam,” jelas Bambang.

Buktinya, kata Bambang, Sriwijaya dengan raja penggantinya, masih sempat membantu pembangunan kuil Tao di Kanton. Kuil ini kemudian dihancurkan tentara Khubilai Khan ketika Mongol menghajar Dinasti Song.  

“Artinya, kekuasaan Sriwijaya masih eksis. Meski raja ditawan Cola, tapi tetap berlanjut, karena Tamil tidak menduduki, mereka cuma menyerang dan pergi lagi,” tambah Bambang.

Baca juga: 

Sriwijaya Genjot Pajak
Sriwijaya Tak Berkuasa hingga Thailand
Revolusi Bahasa di Sriwijaya
Pertukaran Pelajar antara Sriwijaya dan Nalanda
Inilah Akta Kelahiran Sriwijaya
Suku Laut Sriwijaya
Pendahulu Sriwijaya

Jakarta

Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan megah bercorak Buddha yang berdiri pada abad ke-7 Masehi. Kerajaan ini meninggalkan beberapa prasasti yang berisi kutukan.

Kerajaan yang berlokasi di Pulau Sumatera ini mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Balaputradewa di abad ke-9. Balaputradewa adalah keturunan dari Raja Dinasti Syailendra, Samaratungga.

Keberadaan Kerajaan Sriwijaya terlihat dari berbagai prasasti peninggalannya. Sejarah awal mula berdirinya kerajaan ini tercatat dalam Prasasti Kedukan Bukit yang dikeluarkan pada tanggal 16 Juni 682 Masehi.

Dalam prasasti tersebut, diketahui Kerajaan Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang melakukan perjalanan suci. Dia berangkat menggunakan perahu dari Minanga Tamwan bersama 20.000 orang tentara dan 200 peti bekal.

Dapunta Hyang Sri Jayanasa kemudian berhasil menakhlukkan beberapa wilayah dan membangun perkampungan di Palembang.

Berdirinya kerajaan ini juga diperoleh dari sumber asing. Dikutip dari buku Sejarah oleh Nana Supriatna, sumber asing diperoleh dari berita-berita China, India (prasasti Nalanda dan Cola), Sri Lanka, Arab, Persia, dan Prasasti Ligor di Tanah Genting Kra Malaysia tahun 775 Masehi.

Prasasti Kutukan Kerajaan Sriwijaya

Beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya diketahui berisi kutukan. Mayoritas kutukan tersebut ditujukan kepada orang-orang yang tidak taat terhadap raja. Berikut 6 prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berisi kutukan:

1. Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu berisikan kutukan terhadap siapa saja yang melakukan kejahatan dan tidak taat kepada raja. Melansir kebudayaan.kemdikbud.go.id, ancaman tersebut ditujukan kepada siapapun baik para putra raja dan pejabat kerajaan maupun para kerajaan.

Dalam Prasasti Telaga Batu tertulis bahwa barangsiapa melanggar prasasti tersebut, maka dia akan mati. Berikut kutipan isi prasasti yang berisi kutukan ini:

“Selain itu, kuperitahkan mengawasi kalian … akan mati … dengan istri-istrimu dan anak-anakmu … anak-cucumu akan dihukum oleh aku. Juga selain … engkau akan mati oleh kutukan ini. Engkau akan dihukum bersama anak-anakmu, istri-istrimu, anak-cucumu, kerabatmu, dan teman-temanmu”.

2. Prasasti Boom Baru

Prasasti Boom Baru ditemukan di daerah Palembang, tepatnya di sekitar Pelabuhan Boom Baru. Prasasti ini ditulis dengan huruf Pallawa. Tidak tertulis tahun dalam prasasti tersebut.

Prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini berisi tentang kutukan dari raja Sriwijaya. Melansir situs yang sama, sumpah atau kutukan ditujukan kepada orang yang berbuat jahat atau berkhianat kepada dātu Śrīwijaya (red: raja).

Berikut penggalan isi kutukan dalam Prasasti Boom Baru:

“…(apabila) ia tidak bakti dan tunduk (bertindak lemah lembut) kepadaku (raja) dengan …
dibunuh ia oleh sumpah dan di(suruh) supaya hancur oleh … (Śrīwijaya)”

3. Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur ditemukan di Kota Kapur, Bangka Belitung. Prasasti ini diperkirakan ditulis pada 656 Masehi. Prasasti Kota Kapur berisikan permintaan kepada Dewa untuk menjaga persatuan dan kesatuan Kerajaan Sriwijaya.

Selain itu, prasasti ini juga berisi hukuman bagi orang yang melakukan kejahatan dan melakukan pengkhianatan terhadap raja.

4. Prasasti Karang Berahi

Prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berisi kutukan lainnya adalah Prasasti Karang Berahi. Prasasti ini ditemukan di Jambi, tepatnya di Desa Karang Berahi, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin.

Melansir laman Kemendikbudristek, Prasasti Karang Berahi ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. Prasasti ini berisi kutukan bagi wilayah yang tidak tunduk terhadap Kerajaan Sriwijaya.

5. Prasasti Palas Pasemah

Prasasti Palas Pasemah menceritakan tentang keberhasilan Kerajaan Sriwijaya dalam menduduki wilayah Lampung Selatan. Selain itu, prasasti ini juga berisikan kutukan bagi orang-orang yang tidak taat kepada raja. Orang tersebut akan terbunuh oleh kutukan.

Berikut penggalan isi prasasti kutukan peninggalan Kerajaan Sriwijaya:

“…Ada orang di seluruh kekuasaan yang tunduk pada kerajaan yang memberontak, berkomplot, tidak tunduk setia kepadaku, orang-orang tersebut akan terbunuh oleh (kutukan)…”

Simak Video “Ayda Prasasti, Putri Ki Joko Bodo yang Enggan Jadi Paranormal

(kri/nwy)


Page 2

Jakarta

Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan megah bercorak Buddha yang berdiri pada abad ke-7 Masehi. Kerajaan ini meninggalkan beberapa prasasti yang berisi kutukan.

Kerajaan yang berlokasi di Pulau Sumatera ini mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Balaputradewa di abad ke-9. Balaputradewa adalah keturunan dari Raja Dinasti Syailendra, Samaratungga.

Keberadaan Kerajaan Sriwijaya terlihat dari berbagai prasasti peninggalannya. Sejarah awal mula berdirinya kerajaan ini tercatat dalam Prasasti Kedukan Bukit yang dikeluarkan pada tanggal 16 Juni 682 Masehi.

Dalam prasasti tersebut, diketahui Kerajaan Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang melakukan perjalanan suci. Dia berangkat menggunakan perahu dari Minanga Tamwan bersama 20.000 orang tentara dan 200 peti bekal.

Dapunta Hyang Sri Jayanasa kemudian berhasil menakhlukkan beberapa wilayah dan membangun perkampungan di Palembang.

Berdirinya kerajaan ini juga diperoleh dari sumber asing. Dikutip dari buku Sejarah oleh Nana Supriatna, sumber asing diperoleh dari berita-berita China, India (prasasti Nalanda dan Cola), Sri Lanka, Arab, Persia, dan Prasasti Ligor di Tanah Genting Kra Malaysia tahun 775 Masehi.

Prasasti Kutukan Kerajaan Sriwijaya

Beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya diketahui berisi kutukan. Mayoritas kutukan tersebut ditujukan kepada orang-orang yang tidak taat terhadap raja. Berikut 6 prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berisi kutukan:

1. Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu berisikan kutukan terhadap siapa saja yang melakukan kejahatan dan tidak taat kepada raja. Melansir kebudayaan.kemdikbud.go.id, ancaman tersebut ditujukan kepada siapapun baik para putra raja dan pejabat kerajaan maupun para kerajaan.

Dalam Prasasti Telaga Batu tertulis bahwa barangsiapa melanggar prasasti tersebut, maka dia akan mati. Berikut kutipan isi prasasti yang berisi kutukan ini:

“Selain itu, kuperitahkan mengawasi kalian … akan mati … dengan istri-istrimu dan anak-anakmu … anak-cucumu akan dihukum oleh aku. Juga selain … engkau akan mati oleh kutukan ini. Engkau akan dihukum bersama anak-anakmu, istri-istrimu, anak-cucumu, kerabatmu, dan teman-temanmu”.

2. Prasasti Boom Baru

Prasasti Boom Baru ditemukan di daerah Palembang, tepatnya di sekitar Pelabuhan Boom Baru. Prasasti ini ditulis dengan huruf Pallawa. Tidak tertulis tahun dalam prasasti tersebut.

Prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini berisi tentang kutukan dari raja Sriwijaya. Melansir situs yang sama, sumpah atau kutukan ditujukan kepada orang yang berbuat jahat atau berkhianat kepada dātu Śrīwijaya (red: raja).

Berikut penggalan isi kutukan dalam Prasasti Boom Baru:

“…(apabila) ia tidak bakti dan tunduk (bertindak lemah lembut) kepadaku (raja) dengan …
dibunuh ia oleh sumpah dan di(suruh) supaya hancur oleh … (Śrīwijaya)”

3. Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur ditemukan di Kota Kapur, Bangka Belitung. Prasasti ini diperkirakan ditulis pada 656 Masehi. Prasasti Kota Kapur berisikan permintaan kepada Dewa untuk menjaga persatuan dan kesatuan Kerajaan Sriwijaya.

Selain itu, prasasti ini juga berisi hukuman bagi orang yang melakukan kejahatan dan melakukan pengkhianatan terhadap raja.

4. Prasasti Karang Berahi

Prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berisi kutukan lainnya adalah Prasasti Karang Berahi. Prasasti ini ditemukan di Jambi, tepatnya di Desa Karang Berahi, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin.

Melansir laman Kemendikbudristek, Prasasti Karang Berahi ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. Prasasti ini berisi kutukan bagi wilayah yang tidak tunduk terhadap Kerajaan Sriwijaya.

5. Prasasti Palas Pasemah

Prasasti Palas Pasemah menceritakan tentang keberhasilan Kerajaan Sriwijaya dalam menduduki wilayah Lampung Selatan. Selain itu, prasasti ini juga berisikan kutukan bagi orang-orang yang tidak taat kepada raja. Orang tersebut akan terbunuh oleh kutukan.

Berikut penggalan isi prasasti kutukan peninggalan Kerajaan Sriwijaya:

“…Ada orang di seluruh kekuasaan yang tunduk pada kerajaan yang memberontak, berkomplot, tidak tunduk setia kepadaku, orang-orang tersebut akan terbunuh oleh (kutukan)…”

Simak Video “Ayda Prasasti, Putri Ki Joko Bodo yang Enggan Jadi Paranormal

[Gambas:Video 20detik]
(kri/nwy)

Saya harap bahwa solusi dari pertanyaan tentang Prasasti yang menunjukkan pernah terjadinya peperangan antara kerajaan Sriwijaya ini berguna untuk om dan tante semua.

Jikalau sobs butuh bantuan lebih lanjut,sobs boleh hubungi kami lewat link contact us.

Prasasti yang menunjukkan pernah terjadinya peperangan antara kerajaan Sriwijaya | admin | 4.5