Pemberian gelar kepada Ki Hajar Dewantara pada tahun 1959 diberikan oleh

By On Wednesday, August 10th, 2022 Categories : Tanya Jawab

Pemberian gelar kepada Ki Hajar Dewantara pada tahun 1959 diberikan oleh – Hallo Agan dan sista semua, Terima Kasih sudah berkunjung ke web site situspanda ini. Malam ini, kami dari blog situspanda pengen berbagi saran yang mantap yang mengulas tentang Pemberian gelar kepada Ki Hajar Dewantara pada tahun 1959 diberikan oleh. Langsung saja bapak dan ibu bisa mengecek yang setelah ini:


Buatlah 3 buah kalimat yang menggunakan kon jung Si​


Maleo senkawor adalah satwa endemik Sulawesi yang bisa ditemui di hutan dan pesisir pantai. Jenis ini dijuluki burung yang unik dan cantik, karena sep


erti ada konde di kepalanya. Satwa yang terbilang cerdik dan pandai tersebut tidak mengerami telurnya. Setelah bertelur, maleo akan menguburkan telurnya sampai menetas sendiri. 11. Tentukan ide pokok teks tersebut! Jawab: 2. Tulislah kesimpulan teks tersebut! Jawab:​


buatlah akrostik dengan nama “salwa”​


Maleo senkawor adalah satwa endemik Sulawesi yang bisa ditemui di hutan dan pesisir pantai. Jenis ini dijuluki burung yang unik dan cantik, karena sep


erti ada konde di kepalanya. Satwa yang terbilang cerdik pandai tersebut tidak mengerami telurnya. Setelah bertelur, maleo akan menguburkan telurnya sampai menetas sendiri. 11. Tentukan ide pokok teks tersebut! Jawab: 12. Tulislah kesimpulan teks tersebut! Jawab:​


ujaran denotatif, konotatif, dan majas dari kata pantai​


2. Tanukanlah judul yang tepat untuk gambar tersebut ingaan & mengungkapkan objek khusus C 3. Satian deskrips unum tentang gambar tersebut dengan


a. berisi pengenalan objek yang dideskripsikan beris informasi umum tentang objek bebas dari kesalahan struktur kalimat, dan bebas dari kesalahan tanda baca SU d. a engan huruf kapital di tiap awal kata, kecual Buatian deskripst bagian tentang gambar tersebut dengan memuat penjelasan terperinci terhadap objek b terdapat pemerincian beberapa bagian dari objek bebas dari kesalahan kalimat menggunakan kosakata yang segar dan bervariasi dan bebas dari kesalahan tanda baca. a D. 5. Buatlah penutup deskripsi tentang gambar tersebut dengan memuat kalimat kesan-kesan terhadap objek memuat kalimat simpulan. 6. Bacalah kembali hasil tulisanmu. Pastikan tidak ada kesh memuat: 3. ujaran denotatif. b. ujaran konotatif, dan majas. OP Bacalah ke Ken can​


memanfaatkan alam secara bertanggung jawab sesuai dengan sila…Pancasila A.kedua B.ketiga C.keempat D.kelima​


tuliskan komponen pebentuk okesistem​


apa makna simbol pohon kalpataru? ​


minimal 3 paragraf aja yaa kakthank youuu​

Dhafi Quiz

Find Answers To Your Multiple Choice Questions (MCQ) Easily at jwb40.dhafi.link. with Accurate Answer. >>

Klik Disini Untuk Melihat Jawaban

#Jawaban di bawah ini, bisa saja salah karena si penjawab bisa saja bukan ahli dalam pertanyaan tersebut. Pastikan mencari jawaban dari berbagai sumber terpercaya, sebelum mengklaim jawaban tersebut adalah benar. Selamat Belajar..#

Answered by ### on Mon, 08 Aug 2022 07:49:20 +0700 with category IPS

Jawaban:

Gelar Ki Hajar Dewantara

Penjelasan:

PENGERTIAN IDE POKOK

Well, sebelumnya, kita perlu mengetahui pengertian dari ide pokok. Ide pokok adalah ide/gagasan yang menjadi pokok pengembangan paragraf. Makanya, nama lain ide pokok adalah gagasan utama. Ide pokok terdapat di kalimat utama dan setiap satu paragraf hanya ada satu ide pokok.

Satu hal yang perlu kamu ingat adalah, kalimat utama ≠ kalimat pertama. Kalimat utama bisa ada di kalimat pertama, bisa pada kalimat terakhir, atau bahkan kalimat pertama dan terakhir.

Baca Juga: Diketahui : A = 2,3,5,7,9 B = 1,6,12,18,30,35

jwb33.dhafi.link Merupakan Website Kesimpulan dari forum tanya jawab online dengan pembahasan seputar pendidikan di indonesia secara umum. website ini gratis 100% tidak dipungut biaya sepeserpun untuk para pelajar di seluruh indonesia. saya harap pembelajaran ini dapat bermanfaat bagi para pelajar yang sedang mencari jawaban dari segala soal di sekolah. Terima Kasih Telah Berkunjung, Semoga sehat selalu.

PTIK.FT.UNM.AC.ID – Setiap 2 Mei, bangsa Indonesia akan memperingati sebuah peringatan penting, yaitu Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

Berbicara soal Hardiknas, maka kita tidak akan pernah bisa lepas dari sosok yang memegang peranan penting di dalamnya. Siapa lagi kalau bukan Ki Hadjar Dewantara.

Siapa sebenarnya sosok Ki Hadjar Dewantara dan hal apa saja yang dilakukanya demi dunia pendidikan di tanah air sebelum akhirnya Hari Pendidikan nasional ditetapkan pada 2 Mei?

Berikut ini adalah sejumlah Fakta terkait Hardiknas, Hari Pendidikan Nasional dan Ki Hadjar Dewantara, seperti dikutip banjarmasinpost.co.id dari berbagai sumber.

1. Sesuai dengan hari kelahiran

Peringatan Hardiknas tiap 2 Mei berdasar pada hari kelahiran dari sosok Ki Hadjar Dewantara. Lahir di Pakualaman, 2 Mei 1889, sosok karismatik ini meninggal dunia di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun. Tanggal kelahirannya diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional.

2. Bukan nama asli

Ki Hadjar Dewantara sebenarnya bukanlah nama asli dari sosok yang juga dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional ini. Nama aslinya adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Mulai 1922 lah namanya berganti menjadi Ki Hajar Dewantara, selanjutnya disingkat sebagai Soewardi atau KHD.

3. Semboyan terkenal

Ki Hadjar Dewantara memiliki semboyan yang sangat terkenal dari dulu hingga sekarang. Semboyan itu adalah “Tut wuri handayani, Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso”.

Ing Ngarso Sung Tulodo artinya nmenjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan. Ing Madyo Mbangun Karso, artinya seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat. Tut Wuri Handayani, seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Semboyan Tut Wuri Handayani ini kini menjadi slogan dari Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia.

4. Pendiri taman siswa

Ki Hadjar Dewantara atau Soewardi mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922, yaitu Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya.

5. Diangkat jadi menteri

Pada kabinet pertama Republik Indonesia, Ki Hadjar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada.

Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.

* Artikel ini telah tayang di Tribunstyle.com dengan judul 5 Fakta Hari Pendidikan Nasional dan Sosok Kunci di Baliknya, Ki Hajar Dewantara

DIUNGGAH : Matius Rimbe

DIBACA : 84764

Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara

Menteri Pengajaran Indonesia ke-1Masa jabatan
2 September 1945 – 14 November 1945PresidenSoekarnoPendahuluTidak ada, jabatan baruPenggantiTodung Sutan Gunung Mulia
Informasi pribadiLahir(1889-05-02)2 Mei 1889

Pakualaman, Hindia BelandaMeninggal26 April 1959(1959-04-26) (umur 69)

Yogyakarta, IndonesiaKebangsaanJawa (Indonesia)Partai politikInsulinde, Boedi OetomoSuami/istriNyi Hajar DewantaraTempat tinggalPakualaman, Surakarta, Jawa TengahAlma materEuropeesche Lagere School, STOVIA (tidak sampe lulus karena sakit)PekerjaanAktivis, Politisi, Kolumnis, WartawanDikenal karenaBapak Pendidikan Nasional, Pahlawan Revolusi Kemerdekaan, Menteri Pengajaran Indonesia, Aktivis Pergerakan Kemerdekaan Indonesia, Pendiri Taman Siswa, Pelopor Pendidikan bagi Kaum Bumiputra.

Ki Hadjar Dewantara

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EBI: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EBI: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; 2 Mei 1889 – 26 April 1959;[1] selanjutnya disingkat sebagai “Soewardi” atau “KHD”) adalah bangsawan Jawa, aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Pada tahun 1959 atas jasa-jasanya dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia, Ki Hadjar Dewantara dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional oleh Presiden Soekarno. tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional Indonesia. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah satu nama sebuah kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya juga diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun edisi 1998.[2]

Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Sukarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959).[3]

Masa muda dan awal karier

Soewardi saat muda

Soewardi berasal dari lingkungan keluarga bangsawan Kadipaten Pakualaman. Ia merupakan putra dari GPH Soerjaningrat dan cucu dari Paku Alam III. Ia menamatkan pendidikan dasar di Europeesche Lagere School. Sekolah ini merupakan sekolah dasar khusus untuk anak-anak yang berasal dari Eropa. Ia sempat melanjukan pendidikan kedokteran di STOVIA. Namun, ia tidak menamatkannya karena kondisi kesehatan yang buruk.[4]

Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar. Ia pernah bekerja untuk surat kabar Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Ia tergolong salah seorang penulis yang handal pada masanya. Gaya tulisannya bersifat komunikatif dengan gagasan-gagasan yang antikolonial.[5]

Aktivitas pergerakan

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.

Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula.

Als ik een Nederlander was

Ki Hadjar Dewantara
(Chris Lebeau, 1919)

Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Prancis pada tahun 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menulis “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” atau “Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga”. Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah “Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli: “Als ik een Nederlander was”), dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, 13 Juli 1913. Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut.

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”.

Beberapa pejabat Belanda menyangsikan tulisan ini asli dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum ini. Kalaupun benar ia yang menulis, mereka menganggap DD berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis dengan gaya demikian.

Akibat tulisan ini ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913). Ketiga tokoh ini dikenal sebagai “Tiga Serangkai”. Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun. [6]

Dalam pengasingan

Soewardi, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo (Tiga Serangkai) tahun 1914 saat diasingkan di Negeri Belanda

Dalam pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Tahun 1913 dia mendirikan Indonesisch Pers-bureau, “kantor berita Indonesia”. Ini adalah penggunaan formal pertama dari istilah “Indonesia”, yang diciptakan tahun 1850 oleh ahli bahasa asal Inggeris George Windsor Earl dan pakar hukum asal Skotlandia James Richardson Logan.

Di sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akta, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Dalam studinya ini Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.

Taman Siswa

Ki Hadjar Dewantara bersama murid-murid Taman Siswa (ca. 1922)

Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian ia bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang berencana untuk ia dirikan.[butuh rujukan]Pada tanggal 3 Juli 1922, ia akhirnya mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa di Yogyakarta.[7] Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.

Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. (“di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan”). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.

Pengabdian pada masa Indonesia merdeka

Surat Ketetapan Presiden Indonesia tentang pengangkatan Ki Hadjar Dewantara sebagai Mahaguru Sekolah Polisi Republik Indonesia bagian Tinggi di Mertojoedan, Magelang

Patung Ki Hajar Dewantara

Tanggal 17 Agustus 1946 ditetapkan sebagai Maha Guru pada Sekolah Polisi Republik Indonesia bagian Tinggi di Mertoyudan Magelang, oleh P.J.M. Presiden Republik Indonesia.

Pada masa pemerintahan Presiden Indonesia yaitu Soekarno, Ki Hadjar diangkat sebagai Menteri Pendidikan Indonesia yang pertama. Pengangkatannya pada tahun 1956.[8] Lalu, pada tanggal 19 Desember 1956, ia juga mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada.[9]

Ki Hadjar Dewantara juga diditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional atas jasa-jasanya dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia. Selain itu, tanggal 2 Mei yang merupakan hari kelahirannya, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.[10] Ketetapan hari tersebut disahkan dalam Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 305 Tahun 1959 bersamaan dengan penetapannya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.[11] Surat keputusan tersebut diterbitkan tanggal 28 November 1959.

Wafat

Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia di Kota Yogyakarta pada tanggal 26 April 1959. Lokasi wafatnya di Padepokan Ki Hadjar Dewantara. Jenazahnya kemudian disimpan di Pendapa Agung Taman Siswa untuk kemudian dimakamkan di Taman Wijaya Brata pada tanggal 29 April 1959. Upacara pemakamannya dipimpin oleh Soeharto yang bertindak sebagai inspektur upacara.[12]

Galeri

Referensi

  1. ^ Ini adalah versi Perguruan Tamansiswa dan Kepustakaan Presiden Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, tokohindonesia.com menyebutkan 28 April 1959 sebagai tanggal wafat.
  2. ^ Uang Kertas Bank Indonesia Pecahan: Rp. 20.000,-, Bank Indonesia, diakses tanggal 26 April 2011.
  3. ^ DAFTAR NAMA PAHLAWAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA“. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-05-09. Diakses tanggal 2011-02-27. 
  4. ^ Astuti, K., dan Arif, M. (2021). “Kontekstualisasi Nilai-Nilai Pendidikan Ki Hajar Dewantara di Era Covid 19”. Jurnal Pendidikan Dasar Flobamorata. 2 (2): 203. ISSN 2721-8996. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  5. ^ Musolin, M., dan Nisa, K. (2021). “Pendidikan Masa Pandemik Covid 19: Implementasi Konsep Tri Pusat Pendidikan Ki Hajar Dewantara”. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan. 3 (6): 4137. ISSN 2656-8071. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  6. ^ Sobih AW Adnan, Medcom (2016-08-116). “Kebangkitan Nusantara di Tangan Ki Hajar Dewantara”. Medcom.id. Diakses tanggal 2020-07-13.  Periksa nilai tanggal di: |date= (bantuan)
  7. ^ Nazarudin (2019). Pendidikan Keluarga Menurut Ki Hajar Dewantara dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam (PDF). Palembang: NoerFikri Palembang. hlm. 126. ISBN 978-602-447-494-2.  Parameter |url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan (bantuan)
  8. ^ Sukirman (2020). Teori, Model dan Sistem Pendidikan (PDF). Palopo: Lembaga Penerbit Kampus IAIN Palopo. hlm. 19–20. ISBN 978-602-8497-80-0.  Parameter |url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan (bantuan); Parameter |first1= tanpa |last1= di Editors list (bantuan)
  9. ^ Lohanda, Mona, ed. (2017). Indeks Beranotasi Karya Ki Hadjar Dewantara (PDF). Diterjemahkan oleh Sunjayadi, A., dan Harjosaputra, Karsono. Jakarta: Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 165. ISBN 978-602-1289-70-9.  Parameter |url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan (bantuan)Pemeliharaan CS1: Banyak nama: translators list (link)
  10. ^ Sugiarta, I. M., dkk. (2019). “Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara (Tokoh Timur)”. Jurnal Filsafat Indonesia. 2 (3): 130. ISSN 2620-7982. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  11. ^ Sujiono, Yuliani Nurani (2013). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini (PDF). Jakarta Barat: PT Indeks. hlm. 136. ISBN 978-979-062-079-7.  Parameter |url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan (bantuan)
  12. ^ Wiryopranoto, S., dkk. (2017). Marihandono, Djoko, ed. Perjuangan Ki Hajar Dewantara: Dari Politik ke Pendidikan (PDF). Museum Kebangkitan Nasional. hlm. 163. ISBN 978-602-61552-0-7.  Parameter |url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan (bantuan)Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)

Pranala luar

  • Profil di TokohIndonesia.com Diarsipkan 2010-05-28 di Wayback Machine.
  • Taman Siswa Diarsipkan 2012-12-26 di Wayback Machine.
  • (Indonesia) Biografi Ki Hajar Dewantara Diarsipkan 2012-06-23 di Wayback Machine.
Jabatan politik
Didahului oleh:
tidak ada
Menteri Pengajaran
1945
Diteruskan oleh:
Todung Sutan Gunung Mulia

Diperoleh dari “https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ki_Hadjar_Dewantara&oldid=21357537”

Saya harap bahwa jawaban tentang Pemberian gelar kepada Ki Hajar Dewantara pada tahun 1959 diberikan oleh itu bermanfaat untuk sobat semuanya.

Kalau saja sobs memerlukan saran lainnya,kamu dapat kirim pertanyaan kita lewat formulir kontak kami.

Pemberian gelar kepada Ki Hajar Dewantara pada tahun 1959 diberikan oleh | admin | 4.5