Makalah terbentuknya jaringan Nusantara melalui perdagangan pada masa Hindu Budha

By On Friday, August 12th, 2022 Categories : Tanya Jawab

Makalah terbentuknya jaringan Nusantara melalui perdagangan pada masa Hindu Budha – Hi teman semua, Makasih banyak dah mau berkunjung ke web situspanda ini. Pagi ini, kita di portal situspanda mau memberikan info yang cool yang mengulas tentang Makalah terbentuknya jaringan Nusantara melalui perdagangan pada masa Hindu Budha. Kami persilakan ibu dan bapak dapat membaca yang dibawah ini:

Pusat-pusat integrasi Nusantara berlangsung melalui penguasaan laut. Pusat-pusat integrasi itu selanjutnya ditentukan oleh keahlian dan kepedulian terhadap laut, sehingga terjadi perkembangan baru, setidaknya dalam dua hal, yaitu

  1. pertumbuhan jalur perdagangan yang melewati lokasi-lokasi strategis di pinggir pantai,
  2. kemampuan mengendalikan (kontrol) politik dan militer para penguasa tradisional (raja-raja) dalam menguasai jalur utama dan pusat-pusat perdagangan di Nusantara.

Jadi, prasyarat untuk dapat menguasai jalur dan pusat perdagangan ditentukan oleh dua hal penting yaitu perhatian atau cara pandang, dan kemampuan menguasai lautan.

Jalur-jalur perdagangan yang berkembang di  Nusantara sangat ditentukan oleh kepentingan ekonomi pada saat itu dan perkembangan rute perdagangan dalam setiap masa yang berbeda- beda. Jika pada masa praaksara hegemoni budaya dominan datang dari pendukung budaya Austronesia di Asia Tenggara Daratan, maka pada masa perkembangan  Hindu-Buddha  di Nusantara terdapat dua kekuatan peradaban besar, yaitu Cina di utara dan India di bagian barat daya.

Keduanya merupakan dua kekuatan super power pada masanya dan mempunyai pengaruh amat besar terhadap penduduk di Kepulauan Indonesia. Bagaimanapun, peralihan rute perdagangan dunia ini telah membawa berkah tersendiri bagi masyarakat dan suku bangsa di Nusantara. Mereka secara langsung terintegrasi ke dalam jaringan perdagangan dunia pada masa itu. Selat Malaka menjadi penting  sebagai pintu  gerbang yang menghubungkan antara pedagang-pedagang Cina dan pedagang-pedagang India.

Pada masa itu, Selat Malaka merupakan jalur penting dalam pelayaran dan perdagangan bagi pedagang yang melintasi bandar- bandar penting di sekitar Samudra Indonesia dan Teluk Persia. Selat itu merupakan jalan laut yang menghubungkan Arab dan India di sebelah barat laut Nusantara, dan dengan Cina di sebelah timur laut Nusantara.

Jalur ini merupakan pintu gerbang pelayaran yang dikenal dengan nama “jalur sutra”. Penamaan ini digunakan sejak abad ke-1 M hingga abad ke-16 M, dengan komoditas kain sutera yang dibawa dari Cina untuk  diperdagangkan di  wilayah lain. Ramainya rute pelayaran ini mendorong timbulnya bandar-bandar penting di sekitar jalur, antara lain Samudra  Pasai, Malaka,  dan Kota Cina (Sumatra Utara sekarang).

Kehidupan penduduk di  sepanjang Selat Malaka menjadi lebih  sejahtera oleh  proses integrasi perdagangan dunia  yang melalui jalur laut tersebut. Mereka menjadi lebih terbuka secara sosial ekonomi untuk menjalin hubungan niaga dengan pedagang- pedagang asing yang melewati jalur itu.

Di samping itu, masyarakat setempat juga semakin terbuka oleh pengaruh- pengaruh budaya luar. Kebudayaan India dan Cina ketika itu jelas sangat berpengaruh terhadap masyarakat di  sekitar Selat Malaka.  Bahkan sampai saat ini pengaruh budaya terutama India masih dapat kita jumpai pada masyarakat sekitar Selat Malaka.

Selama masa Hindu-Buddha di  samping kian terbukanya jalur niaga Selat Malaka dengan perdagangan dunia internasional, jaringan perdagangan dan budaya antarbangsa dan penduduk di Kepulauan Indonesia juga berkembang pesat terutama karena terhubung oleh jaringan Laut Jawa hingga Kepulauan Maluku.

Mereka secara tidak langsung juga terintegrasikan dengan jaringan ekonomi dunia yang berpusat di sekitar  Selat Malaka, dan sebagian di pantai barat Sumatra seperti Barus. Komoditaspenting yang menjadi barang perdagangan pada saat itu adalah rempah-rempah, seperti kayu manis, cengkih, dan pala.

Pertumbuhan jaringan dagang internasional dan antarpulau telah melahirkan kekuatan politik  baru di  Nusantara. Peta politik di Jawa dan Sumatra abad ke-7, seperti ditunjukkan oleh D.G.E. Hall, bersumber dari catatan pengunjung Cina yang datang ke Sumatra.

Dua negara di Sumatra disebutkan, Mo-lo-yeu  (Melayu)  di  pantai  timur, tepatnya di Jambi sekarang di muara Sungai Batanghari. Agak ke selatan dari itu terdapat Che-li-fo-che, pengucapan cara Cina untuk kata bahasa sanskerta, Sriwijaya. Di Jawa terdapat tiga kerajaan utama, yaitu di ujung barat Jawa, terdapat Tarumanegara,  dengan rajanya yang terkemuka Purnawarman, di Jawa bagian tengah ada Ho-ling (Kalingga), dan di Jawa bagian timur ada Singhasari dan Majapahit.

Selama periode Hindhu-Buddha, kekuatan besar Nusantara yang memiliki kekuatan integrasi secara politik,  sejauh ini  dihubungkan dengan kebesaran Kerajaan Sriwijaya, Singhasari, dan Majapahit. Kekuatan integrasi secara politik  di sini  maksudnya adalah kemampuan kerajaan- kerajaan tradisional tersebut dalam menguasai wilayah-wilayah yang luas di Nusantara di bawah kontrol politik secara longgar dan menempatkan wilayah  kekuasaannya itu   sebagai kesatuan- kesatuan politik  di  bawah pengawasan dari kerajaan-kerajaan tersebut.  Dengan  demikian pengintegrasian antarpulau secara lambat laun mulai terbentuk.

Kerajaan utama yang disebutkan di  atas berkembang dalam periode yang berbeda-beda. Kekuasaan mereka mampu mengontrol sejumlah wilayah Nusantara melalui berbagai bentuk media. Selain dengan kekuatan dagang, politik, juga kekuatan budayanya, termasuk bahasa.

Interelasi antara aspek-aspek kekuatan tersebut yang membuat mereka berhasil mengintegrasikan Nusantara dalam pelukan kekuasaannya. Kerajaan-kerajaan tersebut berkembang menjadi kerajaan besar yang menjadi representasi pusat- pusat kekuasaan yang kuat  dan mengontrol kerajaan-kerajaan yang lebih kecil di Nusantara.

Hubungan pusat dan daerah hanya dapat berlangsung dalam bentuk hubungan hak dan kewajiban yang saling menguntungkan (mutual benefit). Keuntungan yang diperoleh dari pusat kekuasaan antara lain, berupa pengakuan simbolik seperti kesetiaan dan pembayaran upeti berupa barang-barang yang digunakan untuk kepentingan kerajaan, serta barang-barang yang dapat diperdagangkan dalam jaringan perdagangan internasional.

Sebaliknya kerajaan- kerajaan kecil memperoleh perlindungan dan rasa aman, sekaligus kebanggaan atas hubungan tersebut. Jika pusat kekuasaan sudah tidak memiliki kemampuan dalam mengontrol dan melindungi daerah bawahannya, maka sering terjadi pembangkangan dan sejak itu kerajaan besar terancam disintegrasi. Kerajaan-kerajaan kecil lalu melepaskan diri dari ikatan politik dengan kerajaan-kerajaan besar lama dan beralih loyalitasnya dengan kerajaan lain yang memiliki kemampuan mengontrol dan lebih bisa melindungi kepentingan mereka.

Sejarah Indonesia masa Hindu- Buddha ditandai oleh proses integrasi dan disintegrasi semacam itu. Namun secara keseluruhan proses integrasi yang lambat laun itu kian mantap dan kuat, sehingga kian mengukuhkan Nusantara sebagai negeri kepulauan yang dipersatukan oleh kekuatan politik dan perdagangan.

Bukti Peninggalan  Terbentuknya Jaringan Nusantara Melalui Perdagangan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang.

Perdagangan  adalah 
proses  interaksi  antara 
individu  atau kelompok sosial
yang satu dengan lainnya untuk memperoleh komoditas. Dalam perdagangan terkait
empat komponen pokok, yaitu: orang yang mengadakan  interaksi, 
barang  atau  komoditas,  transportasi 
atau  alat yang digunakan untuk
memindahkan barang atau komoditas, dan kedua belah pihak yang terkait dalam
perdagangan.

Jaringan 
perdagangan  masa  lalu 
telah  menempatkan  rempah-rempah 
sebagai komoditi utama sejak 
awal  masehi  dengan 
adanya kontak  antara  pedagang 
nusantara  dengan  pedagang 
Cina, Arab  dan India. Jaringan
perdagangan rempah-rempah ini kemudian semakin ramai dengan kedatangan bangsa
Eropa sekitar abad ke-16, ditandai dengan penguasaan  atas 
Malaka    salah 
satu  bandar  penting 
dalam  jaringan perdagangan Asia
Tenggara – pada tahun 1511 oleh bangsa Portugis. Jaringan perdagangan ini
semakin ramai dengan  kedatangan bangsa
Eropa sekitar abad ke-16. Dalam konteks perdagangan global, terbentuk jaringan perdagangan
yang menghubungkan  dunia barat sebagai
konsumen dan dunia timur sebagai penghasil komoditi.  Maluku dikenal sebagai pusat produksi cengkeh
dan pala (Kepulauan Rempah-Rempah). Kedatangan bangsa Eropa ke kawasan Asia
tidak lepas dari keberhasilan bangsa 
Portugis  menemukan  jalur  pelayaran  yang 
menghubungkan daratan Eropa dan Asia melalui Afrika. Jalur pelayaran inilah  yang 
kemudian  menjadi  jalur 
alternatif  jaringan  perdagangan dunia yang sebelumnya merupakan
jalur darat ( jalut sutera ). Dengan demikian, dalam konteks  perdagangan 
rempah-rempah,  khususnya  bagi  bangsa 
Eropa telah terbentuk jaringan yang langsung menghubungkan Asia Tenggara
khususnya Kepulauan Nusantara sebagai produsen utama rempah-rempah dan Eropa
sebagai konsumen.

1.2  RUMUSAN MASALAH

1.     
Bagaimana
sejarah terbentuknya Jaringan Perdagangan di Indonesia ?

2.     
Bagaimana
Jaringan perdagangan di Indonesia pada masa kolonial?

1.3  TUJUAN

1.     
Mengetahui
sejarah awal perdagangan di Indonesia pada masa kolonial.

2.     
Mengetahui
kondisi awal perekonomian masyarakat Indonesia saat datangnya Belanda atau masa
kolonial.

3.     
Mengetahui  jaringan perdagangan di Indonesia pada masa
kolonial

BAB II

PEMBAHASAN

Secara geografis wilayah Nusantara
berada pada posisi silang di antara dua benua dan dua samudera. Wilayah
Nusantara diapit oleh Benua Asia dan Benua Australia, juga diapit oleh Samudera
Pasifik dan Samudera Hindia. Kondisi geografis tersebut bernilai strategis dan
terbuka. Strategis bermakna letaknya baik dan menguntungkan, sedangkan terbuka
berarti Nusantara terbuka oleh jalur hubungan antarpulau dan antarnegara. Sejak
abad ke-7 kawasan Nusantara telah berhasil memainkan peran sebagai salah satu
pusat perdagangan dan pintu gerbang lalu lintas perdagangan internasional,
antara India-Cina di Asia atau di antara mata rantai hubungan Asia-Eropa. Di
Nusantara muncul beberapa pusat perdagangan penting setelah sebelumnya mampu
tampil sebagai pemasok barang komoditas bagi bangsa-bangsa asing, terutama
rempah-rempah. Aktivitas perdagangan dan pelayaran internasional di Nusantara
dapat berjalan dengan baik sebab negeri-negeri pemilik pusat perdagangan di
Nusantara dapat mengamankan wilayah perairannya sehingga memberi jaminan
keamanan kepada setiap bangsa. Selain itu, penduduk Nusantara termasuk bangsa
yang memiliki kepandaian dan keberanian mengarungi samudera luas. Semua itu menyebabkan
posisi Nusantara menjadi teramat penting dalam percaturan perdagangan dan
pelayaran antara Asia-Eropa.

2.1  Sejarah awal Jaringan Perdagangan di Indonesia

Sebelum kedatangan bangsa barat, Nusantara telah
berkembang menjadi wilayah perdagangan internasional. Pada saat itu terdapat
dua jalur perniagaan internasional yang digunakan oleh para pedagang, yaitu.

1.     
Jalur perniagaan
melalui darat atau lebih dikenal dengan “Jalur Sutra” (Silk Road) yang dimulai
dari daratan Tiongkok (Cina) melalui Asia Tengah, Turkistan hingga ke Laut
Tengah. Jalur ini juga berhubungan dengan jalanjalan yang dipergunakan oleh
kafilah India. Jalur ini merupakan jalur paling tua yang menghubungkan antara
Cina dan Eropa.

2.     
Jalur perniagaan
melalui laut yang dimulai dari Cina melalui Laut Cina kemudian Selat Malaka,
Calicut (India), lalu ke Teluk Persia melalui Syam (Syuria) sampai ke Laut
Tengah atau melalui Laut Merah sampai ke Mesir lalu menuju Laut Tengah.

Melalui jalur perniagaan laut komoditi
ekspor dari wilayah Nusantara menyebar di pasaran India dan kekaisaran Romawi
(Byzantium) yang terus menyebar ke wilayah Eropa. Komoditi ekspor tersebut
antara lain terdiri atas rempah-rempah, kayu wangi, kapur barus dan kemenyan.Sejak
masa kerajaan lama (baik pada masa kejayaan Hindu-Budha maupun Islam) pengaruh
raja-raja atau sultan-sultan dari masing-masing kerajaan dalam dunia perdagangan
cukup besar. Mereka bertindak tidak sekedar sebagai pengontrol keamanan atau
penarik pajak saja, namun sering kali juga bertindak sebagai pemilik modal.
Pada dasarnya dunia perdagangan di wilayah Nusantara pada waktu itu mempunyai
sifat politis dan kapitialistik. Ada dua kerajaan utama di Nusantara yang mempunyai
andil besar dalam meramaikan perniagaan Internasional pada kurun abad ke-7
hinga ke-15, yaitu Sriwijaya di Sumatera dan Majapahit di Jawa. Keduanya adalah
kerajaan Hindu-Budha. Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan pantai
yang kekuatan ekonominya bertumpu pada perdagangan internasional. Sriwijaya
berhubungan dengan jalan raya perdagangan internasional dari Cina ke Eropa
melalui Selat Malaka.

Pada abad ke-7 hingga ke-13 kerajaan
tersebut tumbuh dan berkembang menjadi pusat perdagangan di wilayah Indonesia
Barat, terutama setelah berhasil menguasai dan mengamankan jalur perdagangan di
sekitar Selat Malaka. Sriwijaya mewajibkan setiap kapal dagang yang lewat Selat
Malaka untuk singgah ke pelabuhan Sriwijaya. Oleh karena itu, kerajaan tersebut
sering dikunjungi para pedagang dari Persia, Arab, India, dan Cina untuk
memperdagangkan barang-barang dari negerinya atau negeri-negeri yang
dilaluinya. Barang-barang tersebut antara lain berupa tekstil, kapur barus,
mutiara, kayu berharga, rempah-rempah, gading, kain katun dan sengkelat, perak,
emas, sutera, pecah belah serta gula.

Sebagaimana telah diuraikan, bahwa  sebelum 
kedatangan bangsa Eropa perdagangan rempah-rempah di Maluku didominasi
oleh pedagang-pedagang Cina, Arab, dan pedagang pribumi. Namun, sejak
kedatangan bangsa Eropa perdagangan rempah-rempah menjadi rebutan diantara  para 
pedagang  Eropa.

Dimulai dengan kedatangan bangsa Portugis
pada tahun 1512. Kedatangan bangsa portugis ke Indonesia mempunyai tiga tujuan
sebagai berikut:

a.             
Tujuan
ekonomi,yaitu mencari keuntungan yang besar dari hasil perdagangan
rempah-rempah. Membeli dengan harga murah di Maluku,dan menjualnya dengan harga
tinggi di Eropa.

b.             
Tujuan
agama,yaitu menyebarkan agama Nasrani

c.             
Tujuan
petualangan,yaitu mencari daerah jajahan.

Tujuan tersebut lebih dikenal dengan
gold,glory,gospel. Yaitu:

a.       
Gold,yaitu
mencari emas dan mencari kekayaan \.

b.       
Glory,yaitu
mencari keharuman nama,kejayaan,dan kekuasaan.

c.       
Gospel,yaitu
tugas suci menyebarkan agama Kristen.

      
Bangsa Portugis karena ingin mencapai tujuannya segera melakukan
serangkaian kegiatan penjelajahan. Di bawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque,ia
bersama armadanya berhasil menguasai Malaka pada tahun 1511.selanjutnya,pada
tahun 1521 portugis sudah berhasil menguasai Ternate,yaitu dengan mengadakan
perjanjian dengan kerajaan Ternate.

Portugis dan spanyol memang sama-sama ingin
menguasai dunia. Mereka sudah dua kali membuat kesepakatan,yang pertama tahun
1494 dengan Perjanjian Thordesillas,dan yang kedua tahun 1526 dengan perjanjian
Saragosa. Perjanjian Saragosa yang dipimpin oleh Paus,membagi dunia dalam dua
wilayah kekuasaan.
·              

      
Setelah mendapat tempat dan berhasil menguasai Malaka dan Maluku,
portugis berusaha mendapat tempat lagi di sumatera yang merupakan daerah
penghasil Lada terbesar.Namun usaha Portugis gagal,Karena kerajaan Aceh terlalu
kuat dan pengawasan yang sangat ketat terhadap semua wilayah kekuasaanya. Di
pulau jawa,Portugis diterima dengan baik hanya di Pasuruan dan Blambangan
saja,selebihnya di bawah pengaruh Demak yang tidak begitu senang terhadap
portugis.

 Kemudian
oleh Spanyol pada Tahun yg sama.Tujuan kedatangan bangsa Spanyol ke Indonesia
sama dengan tujuan bangsa portugis, yaitu mencari kekayaan,menyebarkan agama
Nasrani,dan mencari daerah jajahan.Pada tanggal 8 November 1521,kapal dagang
Spanyol berlabuh di Maluku,setelah melalui Filipina,Kalimantan Utara,kemudian
langsung ke Tidore.Disini bangsa Spanyol diterima baik oleh rakyat Tidore.

Kemudian diikuti bangsa Inggris. Inggris
merupakan bangsa Eropa yang paling banyak memiliki daerah jajahan yaitu benua
Amerika bagian Utara, Australia, Afrika maupun Asia. Jajahan Inggris di Asia
terutama adalah Indiadan Semenanjung Malaya. Orang-orang Inggris seperti halnya
orang Belanda berada dalam tekanan untuk terlibat secara langsung dalam
perdagangan rempah-rempah. Pada Tahun 1591, Elizabeth I mendukung usaha pertama
Inggris untuk terlibat langsung dalam perdagangan. Sir James Lancaster dan
George Raymond siap mengadakan pelayaan pada tahun itu juga. Perjalanan mereka
ini mengalami bencana. Di atas kapal timbul banyak kematian akibat terjangkit
wabah penyakit. Lancester memang berhasil mencapai Aceh dan Penang, namun dalam
perjalanan pulang ke negerinya dia terdampar di kepulauan Hindia Barat dan baru
sampai di Inggris tahun 1594 atas kebaikan hati seorang perampok Perancis.
Akibatnya Inggris meragukan manfaat yang akan diperoleh dari usaha seperti itu.
Tetapi karena tersiar kabar mengenai keuntungan-keuntungan pertama yang
diperoleh Belanda, maka lenyaplah sudah semua keraguan itu.

            Bangsa Inggris mendirikan
perusahaan dagang bernama EIC (East India Company) pada tahun 1600 yang bermarkas
di Calanta India. Pada tahun 1600, Elizabeth I memberi sebuah oktroi kepada
Maskapai Hindia Timur ( The East India Company), dan mulailah Inggris mendapat
kemajuan di Asia. Sir James Lancaster ditunjuk untuk melakukan pelayaran yang
pertama maskapai ini. Dia tiba di Aceh pada Bulan Juni 1602 dan terus menuju
Banten. Pimpinan armada kapal membawa surat dan hadiah dari raja untuk
Mangkubumi di Banten. Dengan demikian, pedagang Inggris diterima dengan senang
hati oleh Mangkubumi di Banten dan dapat berdagang dengan mudah, bahkan juga
diperbolehkan mendirikan kantor degang di pelabuhan Banten. Bandar lada yang
sangat kaya ini tetap menjadi pusat kegiatan orang-orang Inggris sampai tahun
1682. Lancester kemudian kembali ke Ingris dengan membawa muatan lada yang
sangat banyak.   

Lalu diikui oleh Belanda pada tahun
1599. Perang antara Belanda melawan Spanyol selama 80 tahun (1568-1648) telah
mendorong Belanda untuk mencari daerah jajahan ke nusantara. Belanda datang
pertama kali ke Indonesia pada tahun 1596,di bawah pimpinan Cornelis de
Houtman,dan berhasil mendarat di Pelabuhan Banten. Pada tanggal 20 maret tahun
1602,Belanda mendirikan kongsi dagang yang beranama VOC (Vereenigde Oost
Indische Compagnie),dengan tujuan sebagai berikut:

a.       
Menghilangkan persaingan
yang merugikan para pedagang Belanda

b.       
Menyatukan
tenaga untuk menghadapi persaingan dengan bangsa Portugis dan pedagang-pedagang
lainnya di Indonesia

c.       
Mencari
keuntungan yang sebesar-besarnya untuk membiayai perang melawan Spanyol

2.1  Jaringan Perdagangan pada Masa Kolonial

Tujuan 
awal  kedatangan  bangsa 
Belanda  ke Indonesia  adalah 
untuk  berdagang  dan 
mencari keuntungan  dari  berdagang 
rempah-rempah.  Sejak Lisabon
dikuasai oleh Spanyol, Belanda tidak dapat lagi membeli dan menyalurkan rempah-rempah
ke negerinya ataupun ke negara Eropa lainnya. Hal itu disebabkan  Belanda 
bermusuhan  dengan  Spanyol yang 
telah  berhasil  menguasai 
Portugis  sehingga Belanda tidak
dapat lagi mengambil rempah-rempah di Lisabon. Oleh sebab itu, para pedagang
Belanda berusaha mencari sendiri daerah penghasil rempah-rempah ke timur.Penjelajahan  Belanda 
pertama  dimulai  pada tahun 
1595  setelah  empat 
buah  kapal  Belanda 
di bawah  pimpinan  Cornelis 
de  Houtman  berangkat dari Amsterdam. Mereka sampai di
pelabuhan Banten pada  tanggal  22 
Juni  1596.  Selanjutnya 
pelayaran yang kedua dipimpin oleh Jacob van Neck, yang tiba di
pelabuhan Banten pada tahun 1598. Sikap bangsa Belanda tidak lagi kasar dan
sombong sehingga mereka diterima dengan baik oleh kerajaan Banten.
Kerajaan  Banten  sedang 
berselisih  dengan  orang-orang Portugis. Di Banten mereka
mendapatkan lada. Perjalanan  dilanjutkan  kembali 
menuju  Tuban  dan Maluku. Di tempat itu pun mereka diterima
dengan baik oleh raja dan masyarakat setempat. Keberhasilan mereka membawa
rempah-rempah dari  kepulauan  Indonesia 
mendorong  kapal-kapal dagang  Belanda 
lainnya  datang  ke 
Indonesia.

Pada pertengahan pertama abad ke-16,
keadaan perdagangan Belanda masih tetap seperti keadaan abad-abad
sebelumnya.Pelayaran yang diselenggarakan masih berkisar antara Eropa Utara
dengan Eropa Selatan.Pelabuhan-pelabuhan di negeri Belanda masih berfungsi
sebagai tempat pemberhentian dan pemuatan barang-barabg ke kapal. Dalam
lapangan perdagangan internasional, kota Antwerpen menempati peran yang
penting.

Kapal – kapal dari berbagai bangsa datang ke
Antwerpen membawa barang-barang yang berasal dari Cadiz, Lisabon, Inggris, dan
juga dari daerah timur.Eksport terpenting Antwerpen adalah laken. Hamper semua
pedagang besar Eropa memiliki kantor dagang sebagai perwakilan di kota ini.
Ketika terjadi perselisihan antara Belanda dengan Spanyol, Antwerpen memihak kepada
Belanda.Pada akhir abad ke-16 pedagang-pedagang Belanda mulai mengadakan
pelayaran di Laut Tengah. Dalam tahun 1580 terjadi perubahan politik akibat dikalahkannya
Portugis atas Spanyol.Akibatnya pedagang Belanda mengalami kesusahan dalam
perdagangan.Para pedagang Belanda akhirnya merasa perlu untuk menemukan sendiri
jalan ke arah timur, ke daerah sumber barang-barang yang sebelumnya dapat
diperoleh di Lisabon. Kondisi-kondisi objektif yang dimiliki oleh para pedagang
Belanda sebagai dorongan untuk menemukan jalan ke timur (Hindia) adalah :

1.     
Modal yang
mereka miliki sebagai keuntungan perdagangan laut timur sudah cukup untuk
mengadakan penjelajahan ke dunia Timur.

2.     
Syarat-syarat
teknis sudah terpenuhi untuk melakukan penjelajahan samudra.

3.     
Sejak tahun 1594
prdagang-pedagang Belanda dilarang melakukan kegiatan dagang di Lisabon melalui
dekrit yang dikeluarkan oleh raja Phillipus II dari Spanyol. Tujuan
dikeluarkannya dekrit tersebut adalah untuk mematika sumber perekonomian
Belanda, sehingga tidak mampu membiayai perangnya melawan Spanyol.

Portugis yang sudah terlebih dahulu datang
ke Asia menguasai Lautan Hindia dan Teluk Persia hingga Selat Malaka tidak
menghendaki bangsa Eropa lain mendekati wilayah kekuasaanya. Oleh karena itu,
pedagang-pedagang Belanda berlayar menjahui daerah-daerah yang membentang di
Lautan Hindia tersebut. Itulah sebabnya pedagang-pedagang Belanda yang
melakukan espedisi pertamanya ke perairan Indonesia, setelah dari ujung selatan
benua Afrika langsung menuju ke Jawa yang belum diduduki
Portugis.Pedagang-pedagang Belanda banyak menaruh kepercayaan kepada
keberhasilan ekspedisi dagang pertama yang mencapai wilayah Indonesia. Dari
masa penjelajahan itu banyak diperoleh informasi yang cukup lengkap mengenai
perdagangan tradisional yang ada di Indonesia dan Asia pada umumnya.Jika
melihat latar belakang kehadiran pedagang-pedagang Belanda ke Indonesia, maka
secara ekonimis kehadiran mereka ini semata-mata adalah untuk berdagang.Hal ini
berbeda bila dibanding dengan motif kehadiran Portugis dan Spanyol yang
setengah-tengah.  Oleh karena semangat dagang
yang lebih besar yang dimiliki oleh orang-orang Belanda, maka mereka berusaha
membentuk organisasi dagang yang benar-benar rapi dalam rangka memperoleh
keuntungansecara ekonomis.Pada tahun 1602 terwujud dibentuknya Vereenigde Oost
Indische Compsgnie (VOC) yang terbentuk atas prakarsa dari Johan van
Oldenbarneveld. Keja sama pedagang-pedagang VOC ini dianggap penting karena
alasan-alasan berikut : 1. Secara bersama-sama diperlukan adanya suatu kekuatan
untuk menghadapi kekuasaan Spanyol dan Portugis. 2. Perjalanan yang jauh dan
penuh resiko dalam pelayaran dapat diperingan dengan kerjasama di antara
mereka. 3. Untuk dapat mempertahankan diri di Asia, maka mereka harus memegang
monopoli perdagangan.

Segera setelah VOC berdiri dibentuk,
pada tahun 1602 itu pula organisasi ini memperoleh hak octroi dari staten
general yang isinya adalah monopoli perdagangan di wilayah yang membentang
antara Tanjung Harapan (Afrika Selatan) hingga selat MagelhaensAmerika
Selatan). Semua hak yang dimiliki VOC itu secara ketatanegaraan sebenarnya
merupakan hak yang dimiliki oleh suatu Negara yang berdaulat.Untuk memperkuat
kedudukan VOC di Indonesia, pemerintah Belanda memberikan hak-hak istimewa.
Hak-hak istimewa VOC tersebut antara lain :

a.      
Hak monopoli
dagang

b.     
Hak membuat dan
mencetak uang

c.      
Hak membentuk
tentara

d.     
Hak menyatakan
perang ataupun membuat perjanjian Tujuan diberikannya hak octroi itu
dimaksudkan: 1. Mencegah terjadinya persaingan diantara pedagang-pedagang
Belanda sendiri, 2. Mampu secara bersama-sama mengahadapi persaingan sesama pedagang
Eropa dan pedagang Asia, 3. Memberikan kekuasaan kepada para pedagang untuk
mengadakan perlawanan terhadap Spanyol dan Portugis.

Bagi para pendiri VOC (kebanyakan
pendirinya adalah bekas anggota-anggota compagnie van verre ). Kumpeni dagang
Belanda ini dimulai dengan modal 6,5 juta gulden yang terbagi atas saham-saham.
Untuk memperkuat kedudukan kumpeni di Indonesia, De Heren Seventien pada tahun
1609 memutuskan untuk memberikan pimpinan pusat kepada perusahanny yang adaa di
Indonesia. Untuk pertama kali Pieter both diangkatsebagai pimpinan tertinggi
kumpeni di Indonesia sebagai Gebernur Jenderal di Ambon.Dalam melaksanakan
tugasnya, gubernur jenderal dibantu oleh beberapa Dewan Hindu yang merupakan
penasehat-penasehat yang ahli dalam masalah-masalah penduduk bumiputera.Fungsi
seorang gubernur jenderal adalah sebagai kepala militer, kepala pemerintahan
sipil, dan kepala perdagangan.Dengan demikian Ambon berfungsi sebagai
pusatmiliter, pusat pemerintahan dan pusat dagang.Sementara itu dalam
perdagangan, posisi Portugis semakin terdesak akibat sifat perdagangannya yang
agresif. Namun saingan berat yang muncul adalah pedagang-pedagang Inggris.Pada
masa kepimpinan gubernur jenderal dipegang oleh J.P.Coen diputuskan untuk
melakukan perlawanan terhadap pedagang-pedagang dari Inggris. J.P.Coen
memidahkan pusat kegiatan dari Ambon ke Batavia.Pemindahan ini dimaksudkan
untuk mendapatkan pangkalan militer dan pangkalan dagang yang dekat dengan
pelayaran-pelayaran menuju Tanjung Harapan, India, Melayu dan Asia Timur.

Terjadilah  persaingan 
dagang  antara  pedagang Belanda dan pedagang Eropa lainnya
di Indonesia. Selanjutnya  untuk  menguasai 
perdagangan  dan memenangkan  persaingan 
dengan  orang-orang Eropa,  para 
pedagang  Belanda  mendirikan 
serikat dagang  yang  disebut 
VOC  pada  tahun 
1602.  VOC singkatan dari Vereenigde
Oost Indische Compagnieatau Perserikatan Perusahaan Hindia Timur. Kemudian, diangkatlah
seorang pimpinan berpangkat gubernur jenderal untuk memperlancar kegiatannya. Gubernur
jenderal pertama adalah Pieter Both.Beberapa hak istimewa disebut hak
octrooiyang diberikan Pemerintah Belanda kepada VOC, antara lain:

4.     
hak monopoli
perdagangan;

5.     
hak memiliki
tentara sendiri;

6.     
hak menguasai dan
mengikat perjanjian dengan kerajaan-kerajaan di daerah yang dikuasai;

7.     
hak  untuk 
mencetak  dan  mengeluarkan 
uang sendiri.

8.     
hak mengumumkan
perang dengan negara lain

9.     
hak memungut
pajak;

10.  hak mengadakan pemerintahan sendiri.

Usaha pertama VOC untuk menguasai kerajaankerajaan
di Indonesia adalah dengan  menguasai salah  satu 
pelabuhan  penting  yang 
akan  dijadikan  pusat kegiatan VOC. Pada tahun 1619, VOC
berhasil merebut  kota  Jayakarta, 
dan  mengubah  namanya menjadi Batavia. Dari Batavia, VOC
dapat mengawasi daerah-daerah lainnya. Selain itu, untuk menguasai kerajaan-kerajaan  lain, 
VOC  menjalankan  politik devide  et 
impera (memecah  belah)  dan 
menguasai antara kerajaan satu dengan kerajaan lainnya. VOC juga  ikut 
campur  dalam urusan  pemerintahan kerajaan di Indonesia.Untuk  menguasai 
perdagangan  rempahrempah,  VOC 
memaksakan  hak  monopolinya.VOC  juga 
melaksanakan  Pelayaran
Hongi,  yaitu melakukan  patroli 
dengan  perahu  kora-kora 
yang dilengkapi senjata untuk mengawasi pelayaran dan perdagangan di
Maluku. Para petani yang melanggar peraturan monopoli diberi hukuman
ekstirpasi, yaitu pemusnahan tanaman rempah-rempah. Akibatnya banyak kerajaan
di Indonesia mengalami kehancuran dan kehidupan rakyat menderita.Jika kita
perhatikan hak – hak istimewanya, VOC dengan mudah menguasai Indonesia. Dari
berbagai upaya yang telah dilakukan VOC tersebut, sebenarnya telah  membuktikan bahwa Belanda  melaksanakan sistem penjajahan, yaitu
imperialisme perdagangan. Dengan imperialisme perdagangan mereka  mudah merampas  dan  menguasai  perdagangan 
secara paksaan dan monopoli.Setelah berkuasa selama kurang dari dua abad
(1602-1799), akhirnya VOC mengalami kehancuran. Hal tersebut disebabkan:

1.     
banyak pejabat
VOC yang melakukan korupsi;

2.     
daerah  kekuasaan 
VOC  yang  semakin 
meluas sehingga  memerlukan  biaya 
pengelolaan yang lebih tinggi, dan;

3.     
VOC banyak mengeluarkan
biaya perang yang besar  dalam  menghadapi 
perlawanan  rakyat Indonesia.

Untuk 
mengatasi  kesulitan  tersebut, 
VOC berupaya  lebih  memeras 
rakyat  Indonesia  dengan menerapkan beberapa peraturan baru,
seperti Verplichte Leveranties dan Contingenten. Verplichte Leveranties ialah
peraturan yang mewajibkan rakyat menjual hasil pertanian kepada VOC dengan
standar harga  ditentukan  oleh  VOC  yang 
nilainya  amat rendah. Adapun
Contingentenadalah penyerahan hasil pertanian dan perkebunan kepada VOC dari
daerahdaerah yang tanahnya berada dalam kekuasaan VOC secara  langsung. 
Dengan  kedua  peraturan 
tersebut, mereka dengan mudah dapat memperoleh lada, beras, kapas, kayu
dan barang lainnya seperti gula, ternak dan ikan. Peraturan lainnya yang
diberlakukan VOC adalah aturan preanger 
stelsel (sistem  wajib  tanam 
kopi  di daerah  Priangan), 
yang  bertujuan  mendapatkan kopi  sebanyak-banyaknya  dengan 
harga  semurah-murahnya. Namun upaya-upaya
tersebut tidak dapat memperbaiki kondisi ekonomi VOC. Sementara itu di negeri
Belanda pada tahun 1795 terjadi revolusi yang dikendalikan oleh Perancis yang menyebabkan  terjadinya 
perubahan  pemerintahan. Dalam  revolusi 
tersebut,  raja  Belanda 
berhasil digulingkan.  Belanda  berubah 
menjadi  republik dengan nama
Republik Bataafyang berada di bawah kekuasaan Perancis.Selanjutnya  Pemerintah 
Republik Bataaf membubarkan VOC pada tanggal 31 Desember 1799. Semua
tanah jajahan dan utang-utang VOC diambil alih oleh pemerintah Belanda.
Pemerintah Republik Bataabelum sempat menata keadaan Indonesia karena pada
tahun 1806 terjadi lagi perubahan pemerintahan di  Belanda, 
yaitu  dibubarkannya  Republik 
Bataaf. Belanda kembali menjadi kerajaan tetapi tetap di bawah kekuasaan
Perancis. Kaisar Napoleon yang menjadi Raja Perancis menunjuk adiknya, Louis
Napoleon, menjadi Raja Belanda. Dengan demikian secara tidak langsung, Indonesia
sebagai daerah jajahan Belanda beralih ketangan Perancis.

 

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan.

Dengan
memiliki letak posisi silang, kawasan Nusantara menerima dampak positif dan
negative akibat timbulnya hubungan antarnegara yang melewati wilayah ini.
Dampak positif dari posisi silang, yakni Nusantara dapat berperan menjadi
jembatan lalu lintas perdagangan dan pelayaran internasional. Nusantara pun
bias menjadi tempat persinggahan sementara bagi kapal-kapal yang melewatinya.
Adapun dampak negatf dari posisi silang, yaitu mudah mendatangkan bahaya dan
ancaman dari luar terhadap Nusantara. Selain itu, mudah masuknya budaya luar
yang tidak sesuai dengan kepribadian masyarakat Nusantara.

Kawasan Nusantara memiliki posisi
tersendiri dalam jaringan perdagangan antara Asia-Eropa. Posisi yang strategis
dalam lalu lintas perdagangan internasional itu telah menyebabkan kawasan
Nusantara menjadi incaran dan ajang perebutan bangsa-bangsa Barat, seperti
Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda. Khususnya pada masa Kolonial atau masa
penjajahan Belanda. Jaringan perdagangan yang telah lama ada sebelum masuknya
Belanda pun semakin berkembang atau semakin luas jaringan perdagangan tersebut
akibat telah munculnya berbagai teknologi dan tata cara perdagangan yang
menguntungkan pihak pedagang. Ini membuat nama Nusantara semakin dikenal di
seluruh penjuru dunia akibat komoditi dagangannya yang menjadi primadona di
dunia, khususnya bumi eropa

Berganti-gantinya bangsa Barat yang
bercokol di Nusantara bukannya membuat kesejahteraan dan ketenteraman, melainkan
rakyat malah menjadi korban penghisapan oleh kolonialis-imperialis dan sumber
daya alam terus mengalir ke dunia Barat.

DAFTAR PUSTAKA

Reid,
Anthony. 1999. Dari Ekspansi hingga
Krisis: Jaringan Perdagangan Global Asia Tenggara  1450 – 1680. Jakarta, Yayasan Obor
Indonesia.

Reid,
Anthony. 2011. Asia Tenggara dalam kurun
Niaga (Jilid I:Tanah di Bawah Angin). Jakarta, Yayasan Obor Indonesia.

Kartodirjo,
Sartono. 1992. Pengantar Sejarah
Indonesia Baru: 1500-1900 (Dari Emporium Sampai Imperium) Jilid I. Jakarta,
Gramedia.

Video yang berhubungan

Kita harap semoga solusi mengenai Makalah terbentuknya jaringan Nusantara melalui perdagangan pada masa Hindu Budha itu bermanfaat untuk Agan dan sista semua.

Jikalau kamu memerlukan saran lebih lanjut,kamu boleh hubungi kita lewat form contact us.

Makalah terbentuknya jaringan Nusantara melalui perdagangan pada masa Hindu Budha | admin | 4.5