Gerakan pembaruan yang diserukan oleh muhammad bin abdul wahab bercorak

By On Saturday, September 10th, 2022 Categories : Tanya Jawab

Gerakan pembaruan yang diserukan oleh muhammad bin abdul wahab bercorak – Apa kabar om dan tante semua, Makasih banyak dah mau berkunjung ke web situspanda ini. Malam ini, kami dari blog www.situspanda.Com akan membagikan saran yg mantap tentang Gerakan pembaruan yang diserukan oleh muhammad bin abdul wahab bercorak. Kami persilakan teman boleh simak yang setelah ini:

Red:

Kehidupan yang mengalir dinamis telah melahirkan pembaharuan-pembaharuan Islam baik secara pemikiran atau gerakan. Pembaruan di sini bukan penambahan ajaran baru dalam Islam. Namun, proses pengembalian Islam sesuai sumbernya dalam rentang zaman. Termasuk, penyelesaian permasalahan baru yang ditemui dikaitkan dengan rujukan Islam. Dalam Islam, istilah pembaruan dikenal dengan tajdid. Para mujaddid (pelaku pembaru) lahir sebagai reaksi atau tanggapan terhadap tantangan-tantangan internal maupun eksternal yang menyangkut keyakinan dan urusan sosial umat. Rasulullah SAW sendiri menjamin bahwa Allah SWT akan melahirkan seorang mujaddid dalam kurun waktu satu abad (seratus tahun). Fungsinya, sama seperti nabi yang diutus. Seorang mujaddid akan mengembalikan umat kepada tuntunannya Alquran dan sunah serta membawa umat Islam keluar dari kesesatan. Seperti ditegaskan Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Sesungguhnya Allah akan mengutus kepada umat ini (umat Islam) pada permulaan setiap abad orang yang akan memperbarui (memperbaiki) urusan agamanya.” (HR Abu Dawud). Jadi, istilah tajdid telah mendapatkan pengesahan dari Alquran dan hadis sendiri. Sepeninggal Rasulullah SAW akan ada seorang mujaddid yang tampil setiap seratus tahun sebagai mujaddid yang melakukan pembaruan. Ia akan menyelamatkan umat dari penyimpangan akidah. Istilah mujaddid baru terdengar nyaring setelah muncul gerakan dalam Islam sebagai kontak yang terjadi antara Islam yang dianggap mundur dan Barat yang dianggap maju. Seperti diterangkan dalam Ensiklopedi Hukum Islam, gerakan pembaruan dalam Islam memang terdapat pada periode modern. Namun, sebelum masa itu keinginan untuk mengadakan perubahan juga telah timbul. Misalnya, seperti apa yang dicetuskan Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792). Gerakannya yang dikenal dengan nama Wahabi dilatarbelakangi oleh faktor internal Arab Saudi. Saat itu, paham tauhid kaum awam telah dirusak oleh kebiasaan-kebiasaan syirik dan bid’ah. Gerakan ini berhasil berkat bantuan kepala suku bernama Muhammad bin Sa’ud (wafat 1765) yang kemudian mendirikan kerajaan di bawah pimpinan keturunannya. Gerakan Wahabi dijadikan mazhab resmi kerajaan itu. Di samping mempunyai gerakan, Ibnu Abdul Wahhab juga mempunyai pendapat bahwa pintu ijtihad tetap terbuka dan ijtihad boleh dilakukan dengan jalan kembali kepada Alquran dan sunah Nabi Muhammad SAW. Gerakan Wahabi disusul oleh serentetan gerakan di Afrika. Gerakan yang bercorak sufistik itu akhirnya berhasil mendirikan negara-negara Islam. Di antara para pemimpinnya yang terkenal, yakni Usman dan Fonjo (1754-1817) di Nigeria, Muhammad Ali bin as-Sanusi (1787-1859) di Libya, dan Muhammad Ahmad bin Abdullah (1843-1885) di Sudan yang gerakannya disebut Mahdiyyah. Di India, pembaruan terutama dilakukan oleh Syekh Ahmad Sirhindi (1564-1624) dan Syah Waliyullah (1702-1762). Mereka melihat bahwa akidah umat Islam India telah dirusak oleh sinkretisme. Oleh sebab itu, mereka mengeluarkan seruan untuk kembali kepada Alquran dan sunah dalam segala lapangan kehidupan. Selanjutnya, Syah Waliyullah berpendapat, untuk memperbaiki masyarakat Muslim di India, mesti diadakan perombakan terhadap kekuasaan Moghul. Sumbangannya yang terutama bagi pemikiran modernis, yaitu kritiknya terhadap taklid (meniru) dan dibukanya kembali pintu ijtihad. Gerakan-gerakan pramodern telah mewariskan bagi Islam modern suatu interpretasi ideologis terhadap Islam dan metode-metode gerakan serta organisasi. Kalau gerakan pramodern, terutama dimotivasi oleh faktor internal, gerakan modern dimotivasi oleh faktor internal dan eksternal, baik oleh kelemahan internal maupun oleh ancaman politis dan religiokultural kolonialisme. Tanggapan para tokoh pembaruan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terhadap dampak Barat bagi masyarakat Muslim terwujud dalam usaha sungguh-sungguh untuk menginterpretasi Islam dalam menghadapi perubahan kehidupan. Mereka menekankan sikap dinamis, luwes, dan dapat menyesuaikan diri yang menjadi ciri kemajuan Islam pada Zaman Klasik (650-1250), terutama kemajuan di bidang hukum, pendidikan, dan sains. Mereka juga menekankan pembaruan internal melalui proses reinterpretasi (ijtihad) dan adaptasi secara selektif (Islamisasi) terhadap ide-ide dan teknologi Barat. Sebab, pembaruan dalam Islam merupakan suatu proses kritik diri ke dalam dan perjuangan untuk menetapkan Islam kembali guna menunjukkan relevansinya dengan situasi-situasi baru yang dihadapi oleh masyarakat Islam. Beberapa belahan bumi telah melahirkan gerakan-gerakan pembaruan Islam yang tema dan aktivitasnya diilustrasikan di dalam beberapa figur utama, seperti di Timur Tengah Jamaluddin al-Afgani (1838-1897) dengan gerakan Pan-Islamisme serta para pengikutnya, seperti  Muhammad Abduh (1849-1905) dengan gerakan Salafiyah dan Muhammad Rasjid Rida (1865-1935). Selain itu, di Asia Selatan muncul seorang mujaddid, Sayyid Ahmad Khan (1817-1898) dan Muhammad Iqbal. Meskipun mereka tidak berhasil melahirkan reinterpretasi terhadap Islam secara sistematis, pandangan mereka telah menerobos ke dalam masyarakat Islam.

Di antara tokoh pembaruan generasi berikutnya, yaitu Hasan al-Banna (1906-1949) dari Mesir dengan gerakan Ikhwanul Muslimin dan Maulana Abu A’la al-Maududi (1903-1979) dari India dengan gerakan Jamiat al-Islam. Di Indonesia, gerakan pembaruan melahirkan organisasi pembaru, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam (PERSIS), dan lain-lain. n ed: hafidz muftisany

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika …

Prof.
Dr. Harun Nasution merupakan salah satu Intelektual Muslim terkemuka di bidang
Filsafat, sekaligus tokoh pembaharuan Islam di Indonesia. Harun Nasution lahir
di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, 23 September 1919 dan wafat di Jakarta
pada tanggal 18 September 1998. Harun Nasution merupakan putera dari Abdul
Jabbar Ahmad yang menjadi Qadi dan penghulu di Pematangsiantar.

Pada
tahun 1983, ia melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Mesir dan tamat tahun
1940, kemudian pada tahun 1952, Harun Nasution menyelesaikan studi Sosial
dengan gelar Sarjana Muda dari Universitas Amerika di Cairo. Selanjutnya, ia
dipilih menjadi Diplomat di Kedutaan Republik Indonesia di Brussels. Ia banyak
mewakili Indonesia di sana terutama karena ia menguasai bahasa Belanda,
Prancis, Inggris dan penguasaanya terhadap masalah politik luar negeri
Indonesia saat itu.

Karena
pengaruh Komunis yang semakin kuat di Indonesia, ia memutuskan keluar dari
Kedutaan karena Harun Nasution anti Komunisme, kemudian ia melanjutkan studi di
ad-Dirasat al Islamiyah, Mesir. Studinya di Mesir tidak dilanjutkan karena
tidak ada biyaya. Kemudian, ia menerima Beasiswa dari Institute of Islamic
Sudies McGill di Montreal, Canada. Ia berhasil meraih gelar Magister dan Doktor
dalam bidang studi Islam pada Universitas McGill dengan Desertasi yang berjudul
“The Place of Reason in ‘Abduh’s Theology : its Impact on His Theological
System and Views”.

Pada
tahun 1969, Harun Nasution kembali ke tanah air dan menjadi Dosen di IAIN
Jakarta kemudian menjadi Rektor IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta selama 11
tahun dan terakhir menjadi Dekan Fakultas Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah,
Jakarta. Harun Nasution dikenal sebagai Intelektual yang banyak memperhatikan
pembaharuan dalam Islam di bidang Filsafat, Teologi, Mistisme, dan Hukum

Gerakan Pembaharuan Islam
Muhammad bin Abdul Wahab di Arabia

Prof.
Dr. Harun Nasution dalam bukunya “ Pembaharuan dalam Islam” menyebutkan bahwa pada
abad kesembilan belas di Arabia timbul aliran Wahabiah. Pencetusnya adalah
Muhammad bin Abdulwahhab (1703-1787). Ia berasal dari Nejd di Arabia. Setelah
menyelesaikan pelajarannya di Madinah, ia pergi merantau ke Basrah dan tinggal
di kota ini selama empat tahun. Selanjutnya ia pindah ke Baghdad dan menikah
dengan seorang wanita yang kaya. Lima tahun kemudian, setelah isterinya
meninggal dunia, ia pindah ke Kurdistan, selanjutnya ke Hamdan dan ke Isfahan.

Di
Isfahan, ia sempat mempelajari Filsafat dan Tasawuf. Setelah bertahun-tahun
dalam pengembaraan, ia akhirnya kembali ke tempat kelahirannya di Nejd.
Pemikirannya yang dicetuskan Muhammad bin Abdulwahhab untuk memperbaiki
kedudukan umat Islam timbul bukan sebagai reaksi terhadap suasana politik
seperti yang terdapat dalam Kerajaan Mughal dan Dinasti Turki Usmani tetapi
sebagai reaksi terhadap paham Tauhid yang terdapat di kalangan umat Islam
waktu itu.

Kemurnian paham Tauhid mereka telah dirusak oleh ajaran-ajaran terekat yang semenjak abad
ketiga belas memang tersebar luas di Dunia Islam. Di tiap negara yang
dikunjunginya Muhammad bin Abdulwahhab melihat kuburan-kuburan Syekh tarekat
bertebaran di tiap kota. Sebagian umat Islam pergi naik Haji dan meminta
pertolongan dari Syekh atau wali yang dikuburkan didalamnya untuk menyelesaikan
permasalahan kehidupan mereka. Ada yang meminta pertolongan supaya diberi anak
dan ada pula meminta supaya diberi jodoh.

Syekh
atau Wali yang telah meninggal dunia itu dipandang sebagai orang yang berkuasa
untuk menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi manusia di alam ini. Karena
pengaruh tarekat ini, permohonan  dan doa
tidak langsung lagi dipanjatkan kepada Allah tetapi melalui syafaat Syekh atau
wali tarekat yang dipandang sebagai orang yang dapat mendekati Tuhan.

 Ahmad
Amin berkata “ bagi mereka Tuhan menyerupai Raja dunia zalim yang untuk
memperoleh belas kasihannya harus didekati melalui orang-orang besar dan
berkuasa yang ada disekitarnyar dan berkuasa yang ada disekitarnya”.

Muhammad
bin Abdul Wahhab melihat kemurnian Tauhid bukan hanya dirusak karena memuja
para syekh atau wali saja. Faham aninisme masih mempengaruhi keyakinan umat
Islam. Syrik adalah dosa terbesar terbesar dalam Islam dan dosa yang tidak
dapat diampuni Tuhan. Soal  Tauhid memang
merupakan ajaran yang paling dasar dalam Islam, oleh karena itu tidak mengherankan
kalau Muhammad bin Abdul Wahhab memusatkan perhatian pada soal ini. Ia
berpendapat :

  1. Yang boleh dan harus disembah
    hanyalah Tuhan dan orang yang menyembah selain dari Tuhan telah menjadi musyrik
  2. Kebanyakan orang Islam
    bukan lagi penganut paham Tauhid yang sebenarnya karena mereka meminta
    pertolongan bukan lagi dari Tuhan, tetapi dari syekh ataub wali dan dari kekuatan
    ghaib. Orang Islam demikian juga telah menjadi musyrik.
  3. Menyebut nama Nabi, Syekh
    atau Malikat sebagai pengantara doa juga merupakan syrik.
  4. Bernazar kepada selain
    Tuhan juga syrik.
  5. Memperoleh pengetahuan
    selain  dari Al-Qur’an , hadis dan qias merupakan kekufuran.
  6. Tidak percaya kepada Qada
    dan kadar Tuhan merupakan kekufuran.

Semua
yang di atas ia anggap bidah dan  bidah
adalah kesesatan. Untuk melepaskan umat Islam dari kesesatan ini, ia
berpendapat bahwa umat Islam harus kembali kepada Islam yang asli yaitu Islam
yang dipraktikan pada masa Nabi, sahabat serta tabi’iin sampai pada abad ketiga
hijrah.

Kepercayaan dan praktik-praktik lain yang timbul sesudah zaman itu
bukanlah ajaran asli dari Islam dan harus ditinggalkan. Dengan demikian taklid
dan patuh kepada pendapat Ulama sesudah abad ketiga tidak dibenarkan.

Pendapat
dan penafsiran Ulama tidaklah merupakan sumber dari ajaran-ajaran Islam. Sumber
yang diakuinya hanyalah Al-Qur’an dan Hadis. Dan untuk memahami ajaran-ajaran yang
terkandung dalam kedua sumber itu dipakai ijtihad. Baginya pintu ijtihad tidak
tertutup. Sama dengan Syah Waliullah dari India, Muhammad bin Abdul wahhab juga
pengikut Ibnu Taimiyah.

Muhammad
bin Abdul Wahab bukan hanya seorang teoris tetapi juga pemimpin yang dengan
aktif berusaha mewujudkan pemikirannya. Ia mendapat dukungan dari Muhammad Ibnu
Sau’ud dan puteranya Abd Al-Aziz di Nejd. Faham-faham Muhammad bin Abdul Wahhab
mulai tersiar dan golongannya bertambah kuat sehingga di tahun 1773 mereka
dapat menduduki Riyadh. 

Pada tahun 1787 Muhammad bin Abdul Wahahhab wafat
tetapi ajarannya tetap hidup dengan mengambil bentuk aliran yang disebut dengan
Wahabiyah.

Pada
tahun 1802, pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab menyerang Padang Pasir Karbala
karena di kota ini terdapat makam Imam Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.
Beberapa tahun kemudian mereka menyerang kota suci Madinah dan menghancurkan
kubah-kubah yang ada di atas kuburan-kuburan. Hiasan-hiasan yang ada dikuburan
Nabi dirusak.  Kiswah sutra yang menutupi
Ka’bah juga dirusak karena semua itu adalah bidah.

Sultan
Mahmmud II penguasa Dinasti Turki Usmani memberi perintah kepada Khedewi
Muhammad Ali di Mesir supaya menghancurkan gerakan Wahabi. 

Ekaspedisi yang dikirim dari Mesir dapat
membebaskan Madinah dan Mekkah di tahun 1813 namun kota ini jatuh kembali ke
tangan wahabiah di tahun 1804 dan 1806. Pemikiran-pemikiran Muhammad bin Abdul
Wahhab yang mempunyai pengaruh adalah:

  1. Hanya
    Al-Qur’an dan Hadislah yang merupakan sumber asli dari ajaran-ajaran Islam.
    Pendapat Ulama tidak merupakan sumber.
  2. Taklid
    kepada Ulama tidak dibenarkan.
  3. Pintu
    Ijtihad terbuka.

Page 2

KULIAHALISLAM.COM – Memuat artikel-artikel tentang Keislaman, Filsafat, Pendidikan, Ekologi, Berita, dan Esai tulisan-tulisan pendek (600-1.000 kata).

Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca untuk beberapa rubrik, di antaranya:

Keislaman    : Tayang setiap hari. Tulisan menarik tentang Sosok (Tokoh Islam), Ulumuddin, Akidah, Akhlak, Ibadah, Fikih, Tasawuf, Kemuhammadiyahan dll.

Filsafat      : Tayang setiap hari. Tulisan tentang Filsafat, Filsafat Islam, dan Tokoh Filsafat.

Pendidikan   : Tulisan tentang Pendidikan Islam, dan Seputar Pendidikan Nasional.

Ekologi       : Tulisan tentang Lingkungan, Ekosistem, Iklim dari bakteri mikroskopik hingga proses yang menjangkau seluruh planet.

Berita      : Kiriman tulisan dari team dokumentasi kegiatan-kegiatan, isu-isu terkini.

Esai          :  Tayang setiap hari. Tulisan menarik tentang apa saja, bisa mengenai peristiwa atau isu yang sedang diperbincangkan maupun hal lain yang dianggap perlu untuk dituliskan. Bisa tema sosial, agama.

Berminat mengirimkan tulisan ? Berikut syarat dan ketentuannya. Baca baik-baik ketentuannya ya.

Pertama :
Bisa langsung klik disini  kirim artikel.

Kirim naskah ke email redaksi ke dengan subjek sesuai nama rubrik (Esai/Keislaman/Filsafat/Berita/Ekologi).

Semua tulisan yang masuk tetap menjadi hak milik kontributor. Jika tulisan layak muat, kami akan segera menghubungi yang bersangkutan.

Jika setelah lima hari karya yang dikirimkan belum mendapat balasan dari kami, penulis berhak menerbitkan atau mengirimkannya ke media lain.

Tulisan dikirim dalam format sudah dicantumkan di bodi email, bukan dalam bentuk dokumen terlampir.

Sebelum tulisan ditayangkan, Kuliahalislam.com berhak menyunting tulisan kontributor.

Kontributor baru (yang tulisannya belum pernah dimuat di Kuliahalislam.com) wajib melampirkan identitas terdiri dari nama lengkap, domisili, nomor kontak, akun media sosial, foto pribadi, serta profil singkat.



Saya harap kiranya jawaban tentang Gerakan pembaruan yang diserukan oleh muhammad bin abdul wahab bercorak ini ada manfaatnya untuk kamu semua.

Jikalau anda butuh saran lain,bapak dan ibu dapat kontak kita melalui formulir contact us.

Gerakan pembaruan yang diserukan oleh muhammad bin abdul wahab bercorak | admin | 4.5